Senin, 17 Desember 2012

"Hawa Nafsu" Musa Husein Al-Habsyi (5 & 6)


BAGIAN KELIMA

Perbandingan Dunia dan Akhirat


Dengan meninjau kembali Alquran, kita akan bisa  membandingkan dunia dan akhirat dalam beberapa sifat yang disebutkannya. Pada kajian sebelumnya saya sudah sebutkan bahwa Alquran menganggap dunia sebagai harta benda yang semu, cepat hilang dan sebagai kesenangan yang sementara. Adapun akhirat merupakan tempat tinggal yang abadi. Allah SWT berfirman: "Hai kauinku, sesungguhnya ke hidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), sesung guhnya akhirat itulah negeri yang kekal" Q.S. Al-Mukmin:39. Dunia adalah hiburan dan permainan.
Sementara akhirat adalah tempat kehidupan yang sebenarnya. Allah SWT Berfirman: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah ycing sebenarnya kehidupan, kalau mereka men getahui". Q.S. Al-‘Ankabût:64. Dunia dalam berbagai Wacana lmam Ali as Amirul Mukminin Ali as mengulas dunia dalam berbagai wacananya dengan panjang lebar. Beliau menyingkap isi dunia yang menipu manusia dengan menampakkan batin dan hakikatnya. Wacana-wacana Imam Ali ini sarat dengan kesadaran. Berikut ini saya cantumkan beberapa di antaranya: Imam Ali berkata: "Demi Allah! Dunia kalian ini di sisiku, tak ubahnya kafilah yang singgah di oasis. Segera setelah kepala mereka memberi aba-aba, mereka beranjak meneruskan perjalanan. "Demi Allah! Kelezatan-kelezatan dunia di hadapan ma taku tak ubahnya air sangat punas yang bernanah yang termi num olehku tumpahannya; buah pahit mematikan yang ter pakna kutelan, bisa ular yang sangat berbahaya dan jeratan api neraka". [1]
Menurut Imam Ali, dunia fenomenal seakan oasis yang indah. Manusia beradu memperebutkannya. Sedang dunia dari sudut pandang batinnya, tak lain adalah persinggahan yang buru-buru ditinggalkan. Oleh karena itu, menurut pandangan Imam Ali, beragam kelezatannya yang diperebutkan banyalah air sangat panas yang bernanah dan ular yang penuh dengan bisa. Ketika diminta Muawiyah untuk menyifati Imam Ali as, Dharar bin Hamzah Asy-Syaibani berkata: "Sungguh, aku telah melihat tingkahnya di waktu malam mulai melepaskan tabir kegelapannya; menghadap mihrabnya sembari memegang janggutnya. Bergeletar tubuhnya layaknya orang yang tersengat binatang berbisa dan menangis layaknya orang tertimpa musibah, lalu berkata: "Wahai dunia! Kau da tang padaku? Apakah kau mengejarku ataukah kau rindu padaku? Tidak, sungguh tidak! Pergilah dan rayu orang selainku! Aku tidak butuh padamu! "Sungguh kau telah aku talak tiga yang tidak mungkin ada rujuk kembali. Hidupmu pendek, bahayamu besar dan angan-anganmu hina. Ah, betapa sedikit nya bekal dan panjangnya jalan." [2]
Dalam riwayat itu Imam Ali menyingkap tiga realitas batin dunia kepada mereka yang tertipu olehnya;
1.                   Hidupmu pendek.
2.                   Bahayamu besar.
3.                   Dan angan-anganmu hina. Imam Ali as berkata: "Camkanlah! Dunia adalah tempat yang menipu. Setiap hari ia berselingkuh dengan istri orang, setiap malam ia membunuh rumah tangga, dan setiap saat ia memecah perkumpulan." [3]
Imam Ali as berkata: "Dunia itu bila datang menipu, bila pergi membahayakan." [4]
Imam Ali as berkata: "Dunia bagaikan tipu-muslihat yang hilang, fatamorgana yang cepat lenyap dan punuk onta yang doyong." [5]
Tentang sifat lahir dan batin dunia, Imam Ali mengung kapkan: "Perurnparnan dunia itu bak seekor ular; lernbek tubuh nya, tapi mengandung bisa yang mematikan. Orang-orang yang berakal akan berhati-hati darinya, tapi anak-anak akan me megangnya dengan tangan mereka." [6]
Dalam mutiara hikmah di atas, Imam Ali ingin menjelaskan bahwa dimensi lahir dunia itu lunak bak seekor ular. Sedangkan dimensi batinnya penuh dengan tipu-muslihat dan kesementaraan mirip dengan rongga mulut ular yang penuh bisa yang mematikan. Manusia di hadapan dunia ini terbagi menjadi dua kelom pok: Pertama, cerdik-pandai yang punya bashîrah yang akan memperlakukan dunia dengan penuh kehati- hatian. Seperti perlakuan seorang berakal terhadap seekor ular yang lunak. Kedua, ialah orang yang tertipu oleh bentuk lahir dunia yang memperlakukan dunia seperti bocah memperlakukan se ekor ular yang halus dan lunak.
Dalam salah satu khutbahnya Imam Ali as berkata: "Dunia ini ialah kampung yang dilingkari bencana; dipenuhi pengkhianatan; tak pernah langgeng ihwalnya dan tak selamat penghuninya. Keadaannya selalu berganti dan masanya selalu berubah. Hidup di dalamnya tercela dan keamanan di dalamnya tak ada. Para penghuninya adalah sasaran lemparan panah-panahnya dan cengkeraman kematiannya.
"Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa kamu sekalian serta segala yang kamu miliki dari dunia ini, berada di jalan orang-orang sebelurn kamu yang telah pergi mening galkannya. Mereka lebih panjang usianya daripada kamu; lebih makmur kediamannya dan lebih banyak bekas peninggalannya. "Suara-suara mereka kini redup redam, kegiatan mereka hilang lenyap, tubuh-tubuh mereka hancur- lulur, rumah-ru mah mereka sunyi-senyap dan peninggalan-peninggalan me reka kini hanyalah reruntuhan.
"Istana-istana mereka yang dibangun megah dengan ham paran permadani-permadani yang rapi, kini berganti batu-batu sandaran yang keras dan liang-liang lahad yang terbelah dan dengan beranda yang dibuat dari debu kehancuran. "Tempat-tempatnya berdekatan, namun para penghuninya saling berjauhan. Merasa sendiri kesepian di antara pen duduknya, dilanda kesibukan di antara para penganggur. Tiada terhibur dengan perasaan berada di tanah air dan tiada saling berkunjung di antara para tetangga, kendatipun ja raknya amat berdekatan. "Betapa mungkin mereka saling berkunjung, sedangkan jasad-jasad mereka telah dihancur-luluhkan oleh kerapuhan dan diremuk-redamkan oleh tanah dan bebatuan.
"Kini, bayangkanlah seolah-olah kalian sendiri telah men jadi seperti mereka. Tertahan di atas tempat pembaringan seperti itu, terkungkung dalam ruangan persimpanan yang tertu tup rapat. Apa kiranya yang akan kalian lakukan apabila telah mencapai akhir perjalanan, saat tanah-tanah pekuburan di putar-balikkan dan kalian dibangkitkan kembali di padang Mahsyar? "Di tempat itu, tiap-tiap diri merasakan pembalasan atas segala yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikem balikan kepada Allah Penguasa mereka yang sebenarnya, dan (pada saat itu) lenyaplah dari mereka segala yang mereka ada- adakan". Q.S. 10:30" [7]
Syarif Al-Rady dalam "Nahjul Balâghah" herkata bahwa Amirul Mukminin as pernah berkata pada Syuraih bin Al- Haris:
"Kudengar Anda telah membeli rurnah dengan harga 80 Dinar, dan telah Anda buat akta jual belinya, lengkap dengan saksi-saksinya? "Benar, wahai Amirul Muminin." jawab Syuraih.
Maka Imam Ali menatapnya dengan wajah yang penuh amarah, lalu berkata padanya:
"Hai Syuraih, suatu hari maut akan menjelangmu, dan ia tidak akan membaca akta jual-beli itu, dan tidak akan mena nyakan kepadamu tentang bukti-buktimu. la akan membawamu pergi sampai menyerahkan dirimu ke tempat kuburanmu dan meninggalkanmu sendirian di sana. "Maka perhatikan baik-baik, wahai Syuraih, jangan sampai Anda membeli rumah itu dengan uang yang bukan milikmu. Atau membayar harganya dengan harta yang bukan menjadi hakmu yang halal. Sehingga berbuat begitu Anda telah merugi kehilangan rumah di dunia dan rumah di akhirat! "Ketahuilah, sekiranya Anda datang kepadaku ketika hen dak membeli rumah yang telah Anda beli itu, pasti kutuliskan bagi Anda sebuah akta yang akan membuat Anda kehilangan hasrat untuk membelinya, meski hanya dengan satu Dirham atau kurang dari itu! Inilah akta itu: 'lnilah rumah yang telah dibeli oleh seorang hamba yang hina-dina dari seorang harnba lainnya yang telah terpaksa pergi meninggalkannya; sebuah rumah di antara rumah-rumah ke angkuhan, yang dimiliki oleh kaum yang sedang menuju kefa naan dan dihuni oleh kaum yang akan diliputi kebinasaan. 'Rumah ini memiliki empat batas: (pertama) yang ber batasan dengan sumber segala penyakit; (kedua) berbatasan dengan pengundang segala musibah; (ketiga) berbatasan dengan hawa nafsu yang membinasakan; (keempat) berbatasan dengan setan yang menyesatkan..., dan di bagian inilah dibuat kan pintu rumah itu!
'Rurnah ini dibeli oleh seorang yang terperdayakan oleh angan-angannya dari seorang yctng terperanjatkan oleh da tangnya ajal, dengan harga berupa keluar dari kejayaan hidup sederhana dan masuk ke dalam kesengsaraan mencari, ber- susah payah dan merengek. [8]
'Dan bila si pembeli ditimpa suatu kerugian yang berada dalam jaminan si penjual, maka kedua-duanya akan dihadap kan di tempat pengumpulan dan perhitungan - pusat segala pahala dan hukuman - di saat telah dikeluarkan perintah untuk menuntaskan segala urusan. la akan diantar ke sana oleh maut; pencerai- berai tubuh-tubuh para raja; pencabut nyawa kaum tiran yang bersimaharajala; penghancur kerajaan Fir'aun, Kisra dan Kaisar, juga para penguasa Tubba' dan Himyar, serta semua yang menumpuk-nurnpuk harta dalam jumlah besar. Mereka yang mendirikan bangunan-bangunan megah dan bermewah-mewah, mengukir dan melukis, menyembunyikan dan menyangka akan hidup untuk selama-lamanya. Atau yang - katanya- mempersiapkan bagi sang keturunan.... 'Maka pada hari itu akan merugilah orang-orang yang berbuat kebatilan.' (Q.S. 40 : 68). 'Demikianlah akta ini dibuat, disaksikan oleh akal di kala ia melepaskan diri dari kungkungan hawa nafsu dan selamat dari segala ikatan duniawai." [9]
Pada kesempatan lain ketika menyifati dunia, Imam Ali berkata: "Sesungguhnya dunia itu keruh airnya, berlumpur sumbernya, memikat pemandangannya dan memunah kebu tuhannya. Godaannya berubah-ubah, sinarnya tenggelam, bay angannya lenyap dan sandarannya doyong. "Manakala buronnya mulai tenang dan pernbangkangnya mulai santai, ia segera injakkan kaki-kakinya, jeratkan tali- talinya dan lepaskan panah-panahnya kepada rnanusia. Setelah itu, ia tangkap manusia dengan laso angan-angan dan me nggeretnya ke pembaringan yang pengap, pengembalian yang seram, pembeberan tipu-muslihat dan pembalasan amal per buatan. Begitu seterusnya dari yang awal hingga yang akhir. (Di dalamnya), maut terus membabat dan durja terus rnerambah. (Satu demi satu penduduknya) mengikuti para pendahulu dan melewati para kawanan. (Sampai datang) titik pengha bisan dan puncak kefanaan." [10]
Imam Ali juga pernah berseru: "Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesukaran, akhirnya kefanaan, halalnya diperhitungkan dan haramnya diberi balasan. Orang yang berkecukupan di dalamnya akan difitnah dan yang ber kekurangan akan resah. Orang yang mengejarnya selalu luput, dan yang enggan terhadapnya, maka ia akan lulut. Orang yang bercermin padanya akan berpandangan dan yang memandang inya akan buta." [11]
Beberapa hari menjelang khilafahnya, kepada Salman Al-Farisi Imam Ali menulis demikian: "Amma ba'du. Dunia seumpama ular yang lembek tubuhnya, (tapi) mematikan bisanya. Oleh sebab itu, tinggalkan apa yang menakjubkan kamu di dalamnya karena sedikitnya yang akan membarengimu darinya. Lupakan hasrat-hasratmu padanya, karena kamu yakin akan meninggalkannya. Waspadai ia di saat kau dekat padanya. "Setiap kali kawan dunia menik mati kesenangan, ia datang menyambarnya dan setiap kali dia merasa tenang, ia datang menghebohkannya. Wassalam." [12]
Imam Ali pernah menyifati dunia demikian: "Ketahuilah! (masa) dunia sudah berlalu; kepergiannya sudah dipersilahkan, kebaikannya sudah usang, dan ia sudah melesat jauh. la menggusah para penduduknya dengan kebinasaan dan meng giring para tetangganya dengan kematian. Pahit sudah apa yang pernah manis darinya dan keruh sudah apa yang pernah jernih darinya. Dunia bak sisa sedikit air kulah dan seteguk air maqlah. Tak akan kenyang orang kehausan bila menyeruput nya. "Wahai hamba-hamba Allah! Berazamlah untuk mening galkan tempat ini; yang telah ditakdirkan baginya kemusna han. Janganlah kalian terkecoh oleh angan-angan dan berpan jang-panjangan usia.” [13]
Dalam khutbahnya yang lain Imarn Ali berseru: "Amma ba'du, aku peringatkan kalian akan dunia! Sungguh ia panorama kehijauan yang indah, penuh dengan berane ka rnacam syahwat, cinta pada 'âjilah, suka pada yang sedikit, bersolek dengan angan- angan dan berdandan mengenakan tipu-niuslihat. Kenikmatannya tidak kekal dan kesengsaraannya tidak terhindar. Sesak dengan penipuan yang membahayakan, perubahan yang meraibkan, pemusnahan yang mengganaskan dan perampasan yang mematikan. "Sekalipun bila ia mewujudkan impian orang yang ber hasrat padanya dan melegakannya, maka itu tak lebih dari apa yang telah difirmankan Allah: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. 18 (Al-Kahfi) : 45). "Tak seorangpun di dalamnya yang mendapat suka, ke cuali disertai duka. Tak seorangpun yang bergembira batinnya, kecuali disengsarakan lahirnya. Tak ada gerimis kemudahan bagi seorang, kecuali (setelahnya) meluap kepadanya banjir kesulitan. "Jelasnya, jika ia di pagi hari menolongmu, maka di sore hari ia akan mempersulitmu. Jika satu sisi darinya sangat lezat dan manis, maka "pahitnya" sisi lainnya ialah infeksi. Tiada orang yang bisa meraih nikmat-nikmatnya dengan leluasa, kecuali akan menelan sisa-sisanya dengan lelah. Tak seorangpun bersore hari di bawah "sayap" ketenteramannya, kecuali akan berpagi hari di atas "tumpukan bulu" ketakutannya. Men cengangkan tipu-muslihat yang dimilikinya dan membinasa kan si fana yang melata di atasnya. "Tiada yang baik dari bekal-bekalnya melebihi takwa. Siapa yang mempersedikit darinya akan memperbanyak apa yang akan menyelamatkannya dan siapa yang memperbanyak darinya maka akan juga memperbanyak apa yang mencelakakannya dan kehilangan apa yang sedikit darinya. Betapa banyak orang bergantung padanya, ia ganyang dan yang percaya padanya, ia hempaskan. Betapa banyak orang besaryang ia hinakan dan orang mulia yang ia rendahkan.
Tahtanya bergantian, hidupnya kotor jernihnya bergaram, manisnya ber jadam, makanannya beracun dan sarana-sarananya berujung. "Kehidupannya di ambang kematian dan kesehatannya di ambang kesakitan. Rajanya ditaklukkan, bangsawannya di tawan, hartawannya disiksa dan tetangganya dijarah. "Bukankah kalian ini di tempat-tempat orang sebelum kalian yang lebih panjang usianya, lebih langgeng pening galannya, lebih jauh angan-angannya, lebih mantap persiapan nya dan lebih garang bala tentaranya.
Mereka mengabdi kepada dunia dengan sebenar-benar pengabdian dan mengorbankan diri untuknya dengan sebenar-benar pengorbanan diri. Kemu dian mereka meninggalkannya tanpa bekal yang memadai dan kendaraan yang bisa menempuh jalan. "Terdengarkah oleh kalian bahwa dunia mengorbankan dirinya untuk mereka atau membantu mereka dengan bantuan atau berlaku baik dalam persahabatannya dengan mereka. Jus tru, ia menggempur mereka dengan ulat tanah, menggasak mereka dengan bermacam bencana, menghinakan mereka de ngan kesialan, membenamkan batang hidung mereka ke tanah, rnenjejak mereka dengan tapal unta dan menghadang mereka dengan segala kesulitan hidup. "Kalian semua telah tahu "keculasan" dunia kepada orang yang merunduk, mangabdi dan mencintainya sampai akhir hayat mereka. Tengoklah! Dunia hanya membekali mereka de ngan kelaparan, menghiasi mereka dengan kesempitan, menerangi mereka dengan kegelapan atau meninggalkan mereka dalam penyesalan.
"Apakah demi ini kalian berkorban dan kepada ini kalian berserah diri ? Atau memang sedemikian rupa kalian berhasrat kepadanya? la adalah tempat yang sangat buruk bagi yang tidak mencelanya dan tidak awas terhadapnya. "Ketahuilah -dan kalianpun mengetahuinya-, bahwa ka lian semua ini akan segera meninggalkannya dan menjauh darinya. Ambillah pelajaran dari orang-orang yang berkata: “ Siapa yang lebih dahsyat kekuatannya dari kami..' (Q.S. Fushshilat 15). "Saat diusung ke pemakaman, mereka tak bisa memanggil tumpangan dan saat digelongsorkan ke liang lahad, mereka tak bisa memerintah kacung.
Dari rnuka bumi ini digali kubur mereka, dari tanah dirancang kafan mereka dan dengan tulang belulang mereka bersahabat. Mereka bertetangga, tapi tak sa ling menanggapi undangan, tak tolong menolong melawan ke laliman atau tak saling menghadiri perjamuan. Bila hujan datang mereka tak gembira dan bila niusim kemarau berkepan jangan mereka tak putus asa. Mereka berkumpul, tapi sendiri- sendiri dan bertetangga, tapi jauh-jauh. Mereka berdekatan tapi tak saling mengunjungi dan mendekati. Mereka adalah orang- orang sopan yang takkan bisa naik pitarn dan orang- orang tolol yang takkan pernah dengki. "Kalian tak perlu khawatir akan keberingasan rnereka dan kalian tak bisa mengharap pertolongan dari mereka.
Mereka telah menggantikan (bentuk) lahir bumi dengan batinnya, kelapangannya dengan kesempitannya, kekeluargaannya de ngan keasingannya dan kecemerlangannya dengan kegulitaan nya. Mereka meninggalkannya seperti ketika memasukinya; telanjang bulat. Mereka bergerak meninggalkannya menuju hidup yang abadi dan tempat yang kekal”. [14]
Dalam khutbah lain Imam Ali berkata: "Aku peringatkan kamu sekalian akan dunia. la adalah tempat yang goyah dan bukan pijakan yang kukuh. la berhias dengan tipu-muslihatnya dan tertipu dengan perhiasannya. la acuh tak acuh pada Tuhan nya, maka Dia campur-adukkan halalnya dengan haramnya, baiknya dengan buruknya, hidupnya dengan matinya dan ma-nisnya dengan pahitnya. "Allah tidak menyucikannya buat para kekasih-Nya dan tidak juga mengotorinya buat para rnusuh-Nya. Kebaikannya terpencil, keburukannya terpampang, timbunan hartanya habis, kekuasaannya tercabut dan manusianya rusak. Apa baiknya tempat yang roboh karena berakhirnya pembangunan, usia yang usai karena terpakainya pembekalan dan waktu yang ha bis karena terputusnya perjalanan. Jadikanlah perintah Allah sebagai "mata pencaharian" kalian dan mintalah Dia (rnenolongmu) untuk memenuhi hak-Nya yang Dia minta dari ka lian. '' [15]
Imam Ali pernah berseru demikian dalam salah satu khutbahnya yang lain:
"... Wahai hamba-hamba Allah, kuwasiatkan kepada kalian untuk menolak dunia yang akan me ninggalkan kalian, meski kalian ogah meninggalkannya, dan yang akan melumatkan tubuh-tubuh kalian, meski kalian ingin meremajakannya kembali.
"Kalian dan dunia itu seumpama kafilah yang menempuh jalan yang hampir sampai dan orang yang menuju ke pos yang hampir tiba. Sejauh apa jarak musafir dan tujuan yang hendak dicapainya? Serentang apa waktu sehari bagi orang yang meluangkannya? Dan (bayangkan) secepat apa "pencari gigih" me ninggalkan dunia? "Jangan bersaing mencari kehormatan dan kebanggaan dunia, jangan terperangah akan perhiasan dan kenikmatannya dan jangan genta rakan kenestapaan dan kesulitannya.
Karena, pada hakikatnya, kehormatan dan kebanggaannya terputus; perhiasan dan kenikmatannya lenyap; dan kenestapaan dan kesulitannya fana. Segenap saat yang ada padanya, akan berak hir, dan segenap yang hidup di dalamnya akan binasa. "Tiadakah dari peninggalan-peninggalan orang terda hulu yang bisa kalian jadikan tempat berbenah dan dari nenek moyang kalian yang bisa kalian jadikan cermin dan ibrah, kalau memang kalian berakal.
Tidakkah kalian melihat orang- orang yang telah lalu tidak ada yang kembali dan orang-orang yang tertinggal tidak adayang kekal. Tidakkah kalian menyak sikan hal ihwalpenghuni duniayang bercabang-cabang; mayat yang ditangisi dan dibelasungkawai, orang terkapar yang pe nuh luka, orang yang mudik, orang yang memperbaiki diri (karena mau mati), pencari dunia yang dikejar maut, lalai yang tidak dilalaikan (oleh Allah) dan orang tertinggal yang meniti jalan orang yang terdahulu.
"Hai manusia ingatlah pada pembasmi segala kelezatan, peredam segala syahwat dan pemupus segala angan-angan di saat-saat kalian meloncat ke berbagai kedurjaan. Mohonlah pertolongan dari Allah untuk dapat melaksanakan hak-Nya, nikmat- nikmat-Nya dan kebaikan-Nya yang tak terbilang." [16]
Inilah bentuk (dimensi) pertama bagi kehidupan duniawi. Sengaja kami perbanyak pemaparan nash- nash keislaman ini guna menyifati dimensi kedua dunia. Karena mayoritas manusia seringkali mengambil lahir dunia daripada mengambil batinnya. Penglihatan mereka hanya sampai ke lahir dunia dan tidak pernah menembus batinnya. Maka semoga dalam nash- nash tersebut kita menemukan sesuatu yang bisa membantu kita untuk memandang dunia secara utuh; lahir-batinnya. Sisi Lahir Duma Sisi lahir kehidupan dunia adalah tipu-daya (ighrâ'). Karena, ia menipu dan mempesona orang-orang yang tidak memi liki bashîrah. Dunia selalu berupaya keras untuk merayu, menipu, me mikat dan menghibur mereka dengan al-lahwu (hiburan yang menyesatkan) dan al-la'ib (permainan). Allah SWT berfirman: "Dan tiadalah kehidupan duma ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka...". Q.S. Al- An'âm:32. Pada ayat lain Allah berfirman: "Dan tiadalah ke hidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gu rau...." Q.S. Al-‘Ankabût:63) Allah juga berfirman: "Bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu." Q.S. Al-Hadîd: 20.
Dalam firman-firman di atas, Allah menjelaskan bahwa kata bentuk lahir dari dunia adalah la'ibun dan lahwun (per mainan dan senda gurau). Jelas bahwa dua sifat itu bertentan gan dengan kesungguhan dan perhatian. Bentuk lahir dunia benar-benar bisa menyibukkan manusia dengan hiburan dan permainan. la merusak sikap serius dan waspada manusia. Imam Ali menyatakan bahwa : "Dunia itu layaknya lumadhah." [17]
Imam Ali as berkata: "Siapa yang sudi membuang lu madhah?’[18]
 Imam Ali as berkata: "Aku peringatkan kalian akan dunia. la seperti manisan. la diliputi berbagai syahwat." [19]
Perbandingan antara Sisi Lahir dan Batin Dunia Dalam Alquran terdapat suatu perbandingan antara lahir dan batin dunia. Di bawah ini ada beberapa ayat yang perlu kiranya kita cermati.
1. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang di makan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasa nnya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tana mannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikian Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang- orang yang berfikir". Q.S. Yunus 24. Ayat ini adalah sebuah contoh yang mengungkap tentang kehidupan, keindahan, hiasan, dan kebinasaan mendadak yang akan menjadi keberakhiran dunia. Dalam ayat ini, dunia diperumpamakan seperti hujan yang turun dari langit ke bumi. Airnya menyirami tumbuh-tumbuhan yang segera menjadi subur karenanya. Sehingga tumbuh-tumbuhan itu bisa dimakan oleh manusia dan bina tang di samping menjadi hiasan bumi itu sendiri. Namun, apabila bumi mulai indah mempesona, secara mendadak datanglah perintah Allah SWT berupa petir, badai dan lain-lain.
Kemudian bumi itu centang-perenang dan ludes sama sekali. Seperti tak pernah ada pemandangan yang hijau royo-royo itu sebelumnya. Beginilah gambaran yang jelas tentang dua dimensi ke hidupan dunia; lahir dan batinnya. Ayat tadi menyerupakan bentuk lahir dunia dengan kesuburan, keelokan, dan peman dangan panoramik yang memikat mata dan hati yang memandangnya. Namun, manakala jiwa mulai asyik dengannya, datanglah - secara tiba-tiba - perintah Allah yang mengakibatkan keporak-parikkan menyeluruh. Pada saat itu, hati akan ngeri melihatnya batin dunia. Dan bagian pertama dari ayat tersebut menggambarkan penyebab penipuan dan keangkuhan karena dunia, yakni sisi lahir dunia. Sedangkan bagian kedua merupakan sumber nasi hat dan ibrah, dan ia adalah dimensi batin dunia.
2. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya kami telah men jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya". Q.S. Al-Kahfi:7. Tidak diragukan lagi bahwa dunia adalah perhiasan yang memikat hati-hati umat manusia. Akan tetapi, ia mengandung bencana, cobaan dan membawa dampak kehancuran bak um pan perburuan. 3. Allah SWT berfirman: "Ketahuilah, bahwa sesungguh nya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara karnu ser ta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhrat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan belaka." Q.S. Al-Hadîd 20. Ayat ini juga memperlihatkan kedua sisi kehidupan dunia itu. Baik yang lahir maupun yang batin. la bagaikan curahan hujan yang turun dari langit menyirami bumi. Kemudian tumbuh tanaman-tanaman yang indah dan menarik perhatian para petani. Namun, setelah itu mengering, menguning dan akhir nya rusak.

Pelbagai Cara Pandang terhadap Dunia
ada hakikatnya, multidimensionalitas dunia terjadi aki bat beragamnya cara memandang dunia. Sebab, meski dunia itu satu, tapi sikap dan cara manusia memandangnya berbeda. Ada manusia yang melihat dunia dengan pandangan yang terdistorsi hingga tertipu olehnya (ightirâ') dan ada manusia yang memandangnya dengan pandangan mengambil pelajaran (i'tibâr). Begitulah dua cara melihat dunia ini; yang satu dang kal dan terhenti pada posisi lahir dunia.
Maka, baginya dunia ialah penjerumus dan penipu manusia. Sedangkan yang lainnya adalah pandangan yang menerawang jauh sampai ke batin kehidupannya dan orang ini akan zuhud terhadapnya. Kalau demikian, masalahnya sebenarnya berpulang pada cara pan dang dan bagaimana manusia mempersepsinya. Jadi agar manusia memperbaiki perlakuannya terhadap dunia, maka sebelumnya, hendaknya mesti memperbaiki cara pandangnya terhadap dunia. Karena perlakuan manusia ter hadap sesuatu bergantung pada cara pandangnya terhadap hal itu.
Orang yang melihat dunia dengan pandangan yang terdis torsi, akan tersesat dan terperdaya. Kehidupan dunia bagi me reka adalah permainan dan pelalaian (lahwun wa la'ibun), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alquran di atas. Adapun orang-orang yang melihat dunia dengan pandangan i'tibâr, mereka akan berbuat di dunia dengan penuh kejujuran dan kesungguhan serta akan menyibukkan diri dengan akhirat daripada menjadikan dunia sebagai hiburan semata. Dalam untaian kata Imam Ali as berikut ini, beliau men jelaskan tentang titik perbedaan manusia memandang dunia. Imam Ali as bersabda: "Dahulu aku mempunyai saudara seagama, yang agung di depan mataku karena remehnya dunia di hadapan matanya". [20]
Amirul Mukminin Ali as menyifati dunia demikian: "Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesusahan dan akhirnya kehancuran? Halalnya diperhitungkan dan ha ramnya diberi balasan. Hartawannya celaka dan fakir miskin nya menderita". [21]
Dalam khutbah yang lain, beliau berseru: "Siapa yang mengejarnya, dunia akan luput darinya dan siapa yang enggan kepadanya dunia akan lulut di hadapannya". [22]
Inilah sunnatullah yang melandasi hubungan manusia dengan dunia yang tidak akan berubah. Orang yang mengekor di belakang dunia dan membuntutinya, hanya akan dibuat capek dunia.
Setiap kali mendapat rizki yang dia dambakan, dia ingin yang lebih dari itu dan berusaha lagi untuk mencapai keinginannya yang ini dan demikian seterusnya. Sebaliknya, orang yang agak cuek terhadap dunia, maka ia akan datang dan orang itu akan meraih apa yang didambanya. Berikut ini saya kutipkan ucapan Imam Ali as yang berkaitan secara langsung dengan pokok permasalahan kita, yaitu: "... Orang yang melihat melalui dunia, akan berpandangan dan yang melihat kepada dunia akan terbutakan." [23]
Syarif Al-Rady dalam menafsirkan perkataan ini berkata: "Orang yang merenungkan mutiara hikmah ini akan mendapat arti yang agung dan dalam." Wacana itu ingin menjelaskan adanya dualitas panda ngan terhadap dunia: Pertama, ibshâr biddunnyâ (memandang melalui dunia) yang penuh dengan pelajaran. Kedua, ibshâr iladdunnyâ (memandang kepada dunia) pandangan yang terdistorsi oleh tipuan dan fitnah dunia. Untuk lebih jelasnya, jika dunia dipakai sebagai cermin untuk melihat berbagai peradaban kuno, orang- orang zalim serta kesombongan mereka di bumi yang Allah siksa dengan sebenar-benar siksaan, maka pandangan semacam ini adalah pandangan yang mengambil pelajaraan dan mauizah. Adapun jika dunia menjadi tujuan pandangannya dan ma ta pencahariannya, maka dunia akan memperdayainya, men jadi fitnah baginya dan, pada gilirannya, akan membutakannya. Dan manusia yang sudah terdistorsi pandangannya ini akan melihat dunia itu manis dan menawan.
Jadi, pandangan yang pertama itu adalah bahan pela jaran, kesadaran dan ketercerahan, sedang pandangan kedua adalah bahan fitnah, penipuan, pendistorsian dan pemanipu lasian. Ibnu Abi Al-Hadîd dalam bukunya menjelaskan untaian kata ini dalam dua bait syairnya: Dunia bagai mentan yang menyorotkan sinarnya yang menghancurkan.
Jika kau tatap pancaran canayanya butalah matamu. Namun, jika kamu melihat dengan cahayanya cerahlah peiiglihatanmu. Tentang dua cara memandang ini, lebih khusus Imam pernah berkata: "la (Allah) ciptakan pendengaran untuk menyimpan hal-hal yang penting, penglihatan untuk memperjelas kesamaran, sebagai pelajaran bagimu ... Mereka digelayuti angan-angan tanpa harapan ... Mereka sibuk memperhatikan kesehatan tubuh, tapi tidak sibuk memperhatikan kedekatan ajal. Apakah sanak- kerabat bisa menghalaunya (maut) atau raungan tangis bisa berguna baginya? Di pemakaman yang tertutup rapat dan pem baringan yang sempit mereka ditinggalkan sebatang kara. Ku lit-kulit tubuh mereka akan digerogoti ulat dan sisa-sisanya akan diterbangkan badai kemudian sedikit demi sedikit keduanya itu akan menghapuskan nisan mereka ..." [24]
Dalam konteks yang sama Imam Ali as berkata: "Dunia semata-mata titik pandang orang buta. la tidak dapat melihat apa yang berada di baliknya. Sementara orang yang berpandangan (tidak buta) bisa menernbus dunia dan mengetahui bahwa ada tempat dibaliknya. Maka orang yang melihat akan berang kat dari dunia, sedangkan orang buta berangkat menuju dunia. Orang yang melihat mencari bekal dari dunia, sedangkan orang buta mencari bekal untuk dunia". [25]
Sungguh orang yang buta adalah orang yang padangan nya tidak bisa menembus inti dunia. Dia sangat bergantung pada dunia karena ia adalah puncak tujuannya. Adapun orang yang melek, pandangannya mampu menembus inti dunia. Dia bisa melihat ada akhirat setelah dunia dan dia pun tidak bergantung padanya karena yakin pasti akan meninggalkannya. Ibnu Abi Al-Hadîd - penyarah kitab Nahjul Balâghah - mempunyai penjelasan indah tentang masalah ini selain apa yang telah kami sebutkan di atas: "Penyerupaan dunia dan apa yang terjadi setelahnya dengan orang buta dan kegelapan yang dikhayalkannya. Kegelapan, baginya, seperti benda inderawi. Padahal, kegelapan itu sebenarnya tidak bisa diindera. Kegelapan itu adalah ketidak beradaan cahaya atau tanpa cahaya. Misalnya, orang yang melihat lobang kecil yang gelap, dia akan segera mengkhayalkan wujud gelap di dalamnya. Padahal kegelapan itu tidak ada. Dan yang ada hanya ketidakadaan cahaya karena sedang meli hat kegelapan.
"Adapun orang yang melihat benda-benda inderawi de ngan menggunakan pancaran sinar, maka dia akan sepenuhnya bisa "menyaksikan" benda-benda inderawi itu dengan yakin. "Begitu pula keadaan dunia dan akhirat. Penggemar du nia menjadikannya puncak tujuan semata-mata. Mereka meny angka dan rnengkhayalkan adanya benda inderawi yang me reka lihat, padahal sebenarnya rnereka tidak melihat apa-apa atau buta. Sedang penggemar akhirat pandangannya mampu melihat benda inderawi secara hakiki. Pandangan mereka tidak hanya terbatas pada dunia (yang khayali itu), tapi sesuatu setelahnya (yang hakiki). Dan mereka itulah sebenarnya yang berpenglihatan". [26]
Metode Memandang yang Benar Melihat, seperti halnya tindakan-tindakan manusia yang lain mempunyai metode yang benar. Alquran sendiri telah men jelaskan kepada kita pelbagai metode berprilaku termasuk yang berkenaan dengan cara memandang. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu tujukan (pandangkan) kedua matamu kepada apa yang telah Kami beri kan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal..." Q.S. Thâhâ:131.

Tamdîd adalah suatu cara melihat.
Tamdîd berarti mel uaskan penglihatan terhadap rizki yang dianugrahkan pada orang lain. Dan kata mudda yang merupakan akar kata tamdîd itu mengacu pada arti tajâwuz (melampaui batas). Ayat itu seakan ingin mengatakan bahwa ada sebagian orang yang melampaui dari rizkinya sendiri ke rizki yang dianugrahkan Allah pada hamba-hamba-Nya yang lain, berupa kemewahan kehidupan dunia. Perluasan dalam melihat ini merupakan sumber ketersiksaan manusia. Karena dia mendamba yang tidak diberikan oleh Allah kepadanya. Dengan kata lain, ada sebagian orang mencari rizki dan ketika sudah mendapatkannya, dia mengharap rizki yang dimiliki orang-orang lain dan demikian seterusnya. Tentu saja, manusia model ini tidak akan henti-hentinya mengejar dunia dan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan nya.
Sebagaimana Amirul Mukminin bersabda: "... Dan berlari di belakang dunia, sampai berkepanjangan siksa yang dialaminya dari dunia. Dia tidak akan pernah mendapatkan tujuan nya."
 Cara memandang dunia seperti ini berdampak kesedihan pada manusia dan kerakusan atas apayang ada di tangan orang lain. Berbeda dengan cara memandang yang ditegakkan atas dasar ta'affuf (menjaga harga diri) dari harta yang ada di tangan orang lain. Jelas bahwa pandangan rasa cukup dan menjaga diri (istighnâ` wa ta'affuf) dari apa yang dimiliki orang lain atau tidak berkeinginan kepadanya, bukan berarti bertopang dagu dari usaha, kerja dan pergerakan di samudera kehidupan. Kare na, Muslim itu harus selalu berusaha dan bergerak, tapi tidak bertitik-tolak dari sikap rakus atas apayang ada di tangan orang lain. Kalau demikian, cara pandang berperan cukup besar da lam keselamatan atau kekotoran jiwa. "Betapa banyak meman dang sekilas yang menyebabkan penyesalan." [27]
Akan tetapi, banyak juga pandangan mata yang bisa men jadi faktor istigâmah dan pembinaan prilaku manusia. Islam tidak pernah melarang kita untuk melihat atau memandang sesuatu, tapi ia mengajarkan pada kita bagaimana melihat dan memandang pada sesuatu. Pelbagai Efek Psikologis dari Suatu Cara Pandang Cinta Dunia dan Zuhud Setiap cara melihat atau memandang mempuyai efek, baik positif maupun negatif, terhadap kehidupan manusia. Per lakuan manusia terhadap sesuatu menurut dan mengikuti pola pandangnya terhadap hal itu. Setiap pola atau cara pandang akan meninggalkan pe ngaruh dan refleksi yangjelas pada prilaku manusia, pikiran dan jiwanya. Untuk melakukan suatu perubahan yang radikal pada kehidupan manusia, diperlukan perubahan pada cara pan dang seseorang pada dunia. Masalah ini menduduki peringkat yang tinggi dalam me tode pedidikan keislaman. Atas dasar itu, saya akan mengkaji pengaruh-pengaruh kejiwaan dan prilaku (behavioral) bagi ma sing-masing dari kedua pola pandang itu. Yaitu pola pandang yang dangkal yang tidak mampu menembus dunia, yang diisti- lahkan Imam Ali as dengan al-ibshâr iladdunyâ (melihat pada dunia), maupun poJa pandang yang bisa menembus dunia yang diistilahkan dengan al-ibshâr biddunyâ.
Adapun paling besarnya pengaruh dari ke dua pola pan dang ini adalah hubbud-dunyâ (cinta dunia) dan zuhud. Yang pertama merupakan akibat alami bagi penglihatan yang dangkal dan tidak menembus batin dunia, sedangkan zuhud meru pakan akibat alami bagi penglihatan (pola pandang) yang men dalam dan menembus batin dunia. Berikut ini, analisis kedua keadaan ini dalam kehidupan manusia. Hubbud-dunyâ Hubbud-dunyâ atau cinta dunia ialah akibat alami bagi suatu penglihatan yang dangkal terhadap dunia. Penglihatan ini, sebagaimana yang pernah saya jelaskan, tidak bisa menguak lahir kehidupan dunia.
Oleh sebab itu, orang dengan penglihatan seperti itu pasti akan terpikat dan terkungkung oleh gemerlapan dan keelokan duniawi. Sebaliknya, zuhud me rupakan akibat alami/pasti bagi pandangan yang sadar dan tajam terhadap dunia. Cinta Dunia Sumber Segala Kejahatan Manusia Tak ada satu kejahatan atau petaka yang terjadi melain kan sebagian atau seluruh akarnya tertancap pada cinta dunia. Rasul bersabda: "Cinta dunia adalah pangkal segala ke maksiatan dan awal segala perbuatan dosa." [28]
Ali as berkata: "Cinta duniapangkal segala fitnah dan induk segala petaka." [29]
Ash-Shâdiq as berkata: "Pangkal segala kesalahan ada lah cinta dunia." (30]
Cinta Dunia Membawa Kepada Kekafiran Kekufuran adalah pengaruh terbesar cinta dunia. Alqur an menyebutkan hubungan antara cinta dunia dan kekufuran dan akibat dari cinta dunia dalam banyak ayat.
1. Allah berfirman: "... kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesung guhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhi rat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum kafir". Q.S. An-Nahl : 106-107. Bukan hanya kekufuran akibat dari cinta dunia yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut. Bahkan ia men jelaskan sesuatu yang jauh lebih daripada itu. Yaitu bahwa cinta dunia akan melapangkan dada manusia, sehingga dia merasa tenteram, bahagia dan patuh setia kepada kekufuran tersebut. Tentu saja, yang demikian itu lebih berbahaya daripada kekafiran itu sendiri. Mereka akan dimurkai Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya.
2. Allah SWT berfirman: ".... dan kecelakaan bagi orang- orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan me nginginkan jalan yang bengkok ... " Q.S. Ibrahim 2-3. Ayat ini jelas sekali hubungan antara cinta dunia dan kekafiran yang menghalangi jalan Allah. Berbagai Pengaruh Psikologis dan Behavioral Cinta Dunia Cinta dunia mempunyai banyak pengaruh psikologis dan behavioral pada diri manusia.
Berikut ini akan saya jelaskan sejumlah pengaruh tersebut.
1.       Panjang Angan-angan pada Dunia Tak diragukan lagi bahwa panjang angan-angan adalah pengaruh psikologis cinta dunia. Karena apabila seorang men cintai dunia akan selalu bergantung padanya. Dan dengan demikian dia akan terus mengangan-angankannya. Inilah pre mis pertama dalam masalah ini. Premis keduanya ialah bahwa orang yang panjang angan-angannya kepada dunia, akan lupa pada kematian. Konklusinya, persiapan amal salehnya buat akhirat semakin berkurang. Silogisme ini telah disinggung dalam beberapa nash keislaman. Imam Ali as berkata: ''Tidaklah panjang angan-angan seorang hamba, kecuali jelek perbuatannya". [31]
Imam Ali as berkata: "Orang yang paling banyak beran gan-angan, paling jarang mengingat kematian".  [32]
Imam Ali as berkata: "Manusia yang paling panjang angan-angannya adalah yang paling jelek perbuatannya". [33]
2.       Merasa Tentram dengan Dunia dan Condong Padanya Ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan, adalah akibat dari panjangnya angan-angan pada dunia dan cinta dunia atau rela kepada dunia.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Karni, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidapan itu dan orang-orang yang melalai kan ayat-ayat Kami. Mereka itu ternpatnya ialah neraka, dise babkan apa yang selalu mereka kerjakan..." Q.S. Yunus:7-8.
Keadaan tenteram seperti itu bersifat palsu dan tidak hakiki. Dengan ketenteraman itu, manusia akan merasa bahwa dunia adalah tempat abadi baginya. Padahal dunia bukan tempat abadi. Kesenangannya cepat sirna, rusak dan hancur. Dan sesungguhnya tempat yang abadi hanyalah surga. Allah berfirman: "Mereka bergembira dengan kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)..." Q.S. Ar-Ra'd 26.
Allah berfirman: "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal ... Q.S. Al-Mukmin:39.
Dunia hanya merupakan kesenangan yang lenyap semen tara alam akhirat tempat yang kekal berlawanan dengan sangkaan orang yang condong kepada dunia. Kecintaan dan ke relaan terhadap dunialah yang menyebabkan manusia memi liki waham yang demikian itu. Imam Ali as pernah meriwayatkan sebuah hadis qudsi yang demikian bunyinya: "Aku heran pada orang yang melihat dunia dan menyaksikan perubahannya dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tapi dia bisa merasa tenang dan tenteram padanya". [34]
Dalam hadis qudsi lain Allah berfirman kepada kalimul lah, Musa as: "Wahai Musa! Jangan condong pada dunia seper ti kecondongan orang-orang zalim dan kecondongan orang- orang yang menjadikannya sebagai ibu dan ayahnya. Cukup-cukupkanlah dirimu darinya". [35]
Ungkapari hadis tersebut sangat jernih dan dalam. Se bagian manusia ada yang condong pada dunia, padahal dunia itu hanyalah kumpulan keadaan-keadaan yang terus-menerus berubah, seperti kecondongan bocah pada ibu dan bapaknya. Sementara sebagian lain ada yang melihat dunia hanya sebagai gelimang lahwu dan permainan yang diperlombakan manusia secara batil. Kemudian, dia mengetahuinya dan tidak tertipu olehnya. Bahkan dia menggantikan dunia dengan kehidupan hakiki yang indah, yaitu kehidupan ukhrawi.
Allah berfirman: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini me lainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhir nya itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui..." Q.S. Al-‘Ankabût:64. 3. Mengutamakan Kehidupan Dunia daripada Akhirat Bila manusia sangat cinta dunia, dia pasti akan memen tingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi.
Allah telah menyebutkan dalam Alquran tentang perihal pengutamaan urusan duniawi di atas urusan ukhrawi. Allah berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tenipat tinggal (nya)" Q.S. Al-Nâzi'ât:40-41.
Dan Allah juga berfirman: "Tetapi karnu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi padahal kehidupan akhirat lebih baik dan kekal." Q.S. Al-A'lâ:16-17. Pada hakikatnya, mereka menginginkan dunia belaka. Sikap mengutamakan dunia atas akhirat itu muncul jika terjadi benturan antara dunia dan akhirat. Yakni ketika manusia di tuntut memilih 'dunia tanpa akhirat' atau 'dunia - akhirat', maka mereka akan memilih dunia tanpa akhirat. Kalau begitu, sebetulnya mereka semata-mata ingin kehidupan dunia.
Allah SWT berfirman: "Maka berpalinglah (hai Muham mad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi..." Q.S. An- Najm 29. Bahkan, lebih dari itu mereka tidak segan-segan menjual akhirat demi mendapat dunia.
Allah SWT berfirman: "Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat ". Q.S. Al-Ba qarah:86. Berkenaan dengan masalah ini Rasulullah SAWW bersab da: "Barangsiapa dihadapkan dua pilihan; dunia dan akhirat, lalu ia memilih dunia daripada akhirat, maka ia akan bertemu Allah SWT tanpa membawa kebaikan yang bisa mencegahnya dari neraka. Dan barangsiapa yang mengambil akhirat dan menolak dunia ia akan menemui Allah di hari kiamat dalam keadaan diridhai-Nya". [36]
Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk". [37]
Imam Ali as juga berkata: "Tidaklah manusia mening galkan urusan agamanya untuk memperbaiki urusan duni anya, kecuali Allah bukakan mereka sesuatu yang lebih mem bahayakan dirinya." [38]
Imam Ali as berkata pula: "Orang yang tidak peduli terhadap bencana yang menimpa urusan akhiratnya, asal saja urusan dunianya selamat, maka orang itu akan benar-benar celaka". [39]
4. Tergesa-gesa Ingin Beroleh Kesenangan Akhirat di Dunia Tergesa-gesa ingin mendapat kesenangan akhirat di dunia ialah akibat lain dari cinta dunia. Allah mencipta manusia agar menikmati keindahan-keindahan surga. Tetapi, pecinta dunia yang bergantung dan merasa tenteram padanya, ingin merengkuh kesenangan-kesenangan akhriat itu di dunia. Dia tak ubahnya petani yang tergesa-gesa ingin menuai sebelum waktunya, lalu dia memetik buah-buahan yang masih mentah. Atau tak ubahnya anak kecil yang tergesa-gesa meminta ke senangan usia setengah baya atau usia tua, lalu dia habis waktunya untuk bermain dan mengabaikan sekolahnya. Orang itu tak lain hanya mengorbankan kepenatannya yang sebentar demi kesengsaraan usia senjanya.
Ayat berikut sangat tepat menggambarkan pengertian tersebut di atas, Allah berfirman: "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu." Q.S. Al-Ahqâf:20. Seakan-akan Allah benar-benar telah menyimpan kesena ngan-kesenangan ini untuk diberikan pada manusia di akhirat yang merupakan tempat yang abadi. Namun, pada galibnya, manusia tergesa-gesa mengambilnya di dunia sebelum tiba waktunya. Lalu, dia menikmatinya dalam keadaan mentah dan mudah rusak.

Al-'Âjilah
Oleh sebab itu, Alquran menamakan dunia dengan al- 'âjilah yang berarti bahwa dunia adalah tempat manusia ter gesa-gesa mendapatkan kesenangan-kesenangan akhirat sebe lum tiba waktunya. Allah berfirman: "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki terhadap orang yang kami kehen daki..." Q.S. Al-Isrâ`:18. Kita butuh untuk banyak merenungkan dan memikirkan bagian akhir ayat tersebut, yaitu (Apa yang Kami kehendaki untuk orang yang Kami kehendaki).
 Karena ketergesa-gesaan manusia untuk memperoleh kesenangan-kesenangan akhirat di dunia ini bukan berarti bahwa manusia pasti akan menda patkan seluruh kesenangan duniawi yang ia kehendaki. Tetapi, manusia akan mendapatkannya sekehendak Allah yang mem beri manusia secara segera (cepat) jika manusia minta segera. Begitu juga sedikit-banyaknya yang diperolehpun ditentukan Allah.
Perkara rizki tetap ada di tangan Allah bukan di tangan manusia. Semakin tergesa-gesa manusia untuk mendapat rizki dunia ini, semakin terhalang dia meraih kesenangan-kesena ngan akhirat. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman: "Dan rnereka berkata: "Ya Tuhan karni, cepatkanlah azab yaiig diperuntukkan bagi kami sebelum hari hisab..." Q.S. Shâd:16. Maksudnya segerakanlah bagian (harta kekayaan) kami agar kami merasakannya di dunia sebelum hari Perhitungan (yaumul hisâb). Kemudian Allah juga berfirman: "Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidu pan dunia" Q.S. Al-Qiyâmah:20. Firman Allah yang lain: "Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak rnemper dulikan hari yang berat (hari akhirat).." Q.S. Al-Insân:27. Ketika kita perhatikan secara seksama nash-nash ini, kita akan dapatkan bahwa masalah benturan antara dunia dan akhirat tidak selalu terjadi pada ruang lingkup yang haram saja, tapi terjadi pula pada yang halal. Inilah letak keindahan cakrawala pemikiran keislaman. Sejumlah nash menjelaskan bahwa Rasulullah SAWW, Ah lul Baitnya as dan hamba-hamba Allah yang saleh membenci sikap berlebihan (ifrâth) dalam menikmati dunia.
Barangkali penyebabnya adalah bahwa ifrâth dalam menikmati kesenangan-kesenangan duniawi akan menyebabkan kecintaan ma- nusia terhadap dunia dan akan menambah ketergantungan manusia pada dunia. Karena, hubungan antara cinta dunia dan isti'jâl (keinginan untuk cepat-cepat mendapat kesenangan du nia) adalah hubungan timbal balik yang sangat erat. Jadi ma nusia yang mencintai dunia, akan tergesa-gesa ingin menikmati kesenangan-kesenangannya. Sedikitpun saya tidak ragu bahwa sebagian benturan antara kesenangan-kesenangan duniawi dan ukhrawi terjadi dalam ruang lingkup yang halal.
Saya tidak perlu menjelaskan kembali bahwa benturan ini tidak berarti keharaman perhi asaan dan rizki yang bagus yang telah dianugrahkan Allah pada hamba- hamba-Nya, sebab ia bukan benturan antara yang halal dan yang haram. Dan ini sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas adalah merupakan keunikan pemikiran keislaman. Sebaiknya terlebih dahulu saya nukilkan nash-nash keis laman yang berkaitan dengan masalah ini, kemudian saya urai kan dan terangkan.
Beberapa Contoh Nash Keislaman Umar bin Khatab mengkisahkan: "Aku berkata pada Rasullah SAWW: "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia melapangkan (rizki) pada umatmu. Sungguh Allah telah mela pangkan rizki pada bangsa Persia dan Romawi, padahal mereka tidak menyembah Allah. Kemudian Rasulullah bangun (tempat tidurnya) dan duduk lalu bersabda: 'Hai Ibnu Khatab, apakah kamu masih ragu? Mereka adalah kaum yang disegerakan untuk mendapatkan kemewahan-kemewahan (ukhrawi) di da lam kehidupan duniawi." [40]
Suatu ketika Rasulullah dihidangi sepotong roti, namun beliau enggan memakannya. Lalu sahabatnya bertanya: 'Apa kah Anda mengaharamkannya? Beliau menjawab: 'Tidak! Tapi aku tidak suka jiwaku menampakkan keinginannya pada roti itu. Kemudian beliau membaca ayat: 'Kamu telah mengha biskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniamu'. Q.S. Al-Ahqâf:20. [41]
 Umar bin Khatab meriwayatkan: "Aku minta izin untuk bertemu Rasulullah SAWW, di kebun Ummu Ibrahim. Ketika itu beliau dalam keadaan berbaring dan meletakkan sebagian anggota badannya di atas tanah. Di bawah kepalanya ada sebuah bantal yang terbuat dari daun pohon gandum. Kemudian aku mengucapkan salam pada beliau, setelah itu aku duduk dan mulai bertanya: 'Wahai Rasulullah, engkau adalah Nabi Allah, kekasih-Nya dan makhluk terbaik-Nya. Kisra dan Kaisar duduk di singgasana emas yang beralaskan permadani dan sutera. Kemudian Rasulullah bersabda: 'Mereka adalah kaurn yang disegerakan kesenangan-kesenangan yang tidak bertahan lama untuk mereka. Sedangkan kesenangan-kesenangan kita akan diberikan di akhirat nanti". [42]
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah mendata ngi Ahlu Suffah sementara mereka seclang menambal pakaian- pakaiannya dengan kulit, lalu mereka tidak mendapatkan tambalan lagi. Kepada mereka Rasulullab bersabda: “Apakah kalian hari ini dalam keadaan baik? Atau hari kalian di pagi harl mengeluarkan pakaian lalu sore harinya ganti dengan yang lain; hari dihidangkan buat kalian. semangkok makanan dan di sore hari dihidangkan semangkok lain; dan rumah kalian tertutup rapat seperti Ka'bah?” Mereka menjawab: "Hari itu keadaan kami tentu lebih baik!" Salah! Tapi keadaan kalian hari ono lebih baik daripada hari itu." Kata Rasul.. [43]
Nabi SAWW pernah melihat Fathimah as berkerudung kain dari kulit onta, sedang menumbuk gandum dengan tangannya dan menyusui putranya. Dengan air mata yang mengalir, beliau bersabda: "Duhai putriku, kau segerakan kepahitan dunia demi memperoleh kemanisan akhirat. Kemudian Fatimah menjawab: "Ya Rasu lullah, Alhamdulillah atas segala kenikmatan-Nya dan teri ma kasih atas segala kebaikan-Nya." Lalu Allah menurunkan ayat: "Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. Q.S. Adh-Dhuhaa:5. [44]
Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Kita sangat mencintai dunia tanpa bisa meraih lebih banyak daripada yang telah diberikan-Nya. Tidaklah seorang anak Adam mendapat sepeng gal dari dunia, kecuali berkurang bagiannya kelak di akhirat”. [45]
Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Nabi terakhir yang akan masuk surga adalah Nabi Sulaiman bin Daud karena kenikma tan-kenikmatan yang sudah diberikan kepadanya di dunia". [46]
Imam Ali as berkata: "Setiap bagian dunia yang hilang darimu, akan menjadi harta rampasan". [47]
Imam Ali as berkata: "Getirnya dunia adalah manisnya akhirat dan manisnya dunia adalah getirnya akhirat dan se jelek-jeleknya kesudahan”. [48]
Imam Ali as berkata: "Siapa yang mencari sesuatu dari dunia akan kehilangan yang lebih banyak dari yang dicarinya di akhirat." [49]
Imam Ali as berkata: "Sesuatu yang bertambah di dunia akan berkurang di akhirat dan sesuatu yang berkurang dari dunia akan bertambah di akhirat." [50]
Abi Abdillah as meriwayatkan dari Ali bin Husein as: "Tidak pernah disodorkan padaku dua hal, yang satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat, kemudian aku memilih dunia melainkan akan tampak padaku sebelum waktu sore tiba apa yang tidak kusukai." Kemudian Abu Abdillah bertutur: "Bani Umayiyah lebih mengutamakan dunia daripada akhirat sejak 80 tahun yang lalu, dan mereka tidak pernah melihat sesuata yang tidak mereka sukai." [51]
Imam Ali as mensyarahi pengertian di atas, beliau ber kata: "Ketahuilah bahwa kekurangan di dunia dan pertamba han di akhirat lebih baik daripada kekurangan di akhirat dan pertambahan di dunia. Betapa banyak 'yang kurang', tapi men guntungkan dan 'yang banyak', tapi merugikan. Sesungguh nya, yang kuperintahkan lebih luas daripada yang kularang dan yang dihalalkan lebih banyak daripada yang diharamkan. Maka, tinggalkanlah 'yang sedikit' demi mendapatkan 'yang lebih banyak' dan 'yang sempit' demi mendapatkan 'yang lebih luas'. Sungguh rizki kalian telah dijamin, sementara (kemu dian) kalian disuruh berbuat". [52]
Jangan (abaikan) sesuatu yang diwajibkan untuk men cari sesuatu yang 'sudah dijamin'. Demi Allah, kilang sudah keraguan dan tinggallah keyakinan, sehingga yang dijamin itidah yang diwajibkan. Seakan- akan, 'yang dijamin' adalah mempersiapkan kalian untuk sesuatu 'yang ditentukan'. Maka, bersegeralah untuk beramal dan takutlahpada ajal yaiig datang tiba-tiba. Tak seorangpun mengharap kembalinya usia sebagaiinana mengharap kembalinya rizki. Rizki yang hilang hari ini, masih bisa diharapkan bertambah banyak esok hari. Sedangkan usia yang hilang kemarln tldak bisa diharap kembali hari ini. Pengharapan hanya berlaku pada yang akau datang dan penyesalan berlaku pada sesuatu yang telah lewat. Allah berfirman: 'Hai orang-orangyang beriman, bertak- walah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam kea daan Muslim.' Q.S. Âlu ‘Imrân:102". [53]



[1] Bihârul Anwâr, 77:352.
 [2] Nahjul Balaghah , hikmah 77; Bihârul Anwâr, 73:129.
[3] Bihârul Anwâr ,77:374.
[4] Bihârul Anwâr ,78:23.
[5] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:109.
[6] Bihârul Anwâr ,78: 311.
[7] Nahjul Balâghah , khutbah 226.
[8] Orang yang hidupnya lebih mudah menjaga kehormatan diri, sedangkan yang hanyak keperluannya terpaksa bersusah-payah dan seringkali meren dahkan diri atau merengek di hadapan penguasa. pejahat, hartawan dsb.
[9] Nahjul Balâghah , Kitab ke-3.
[10] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-83.
[11] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-82.
[12] Nahjul Balâghah , Surat ke-83.
[13] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-52.
 [14] Nahjul Balâghah , khutbah 111.
[15] Nahjul Balâghah , khutbah 113.
[16] Nahjul Balâghah , khutbah 99.
 [17] Lumadhah adalah sisa makanan yang ada di mulut. Blhârul Anwar, 73:133.
[18] Blhârul Anwar, 73:133.
[19] Blhârul Anwar, 73:99.
[20] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 289.
[21] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 82.
 [22] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 82.
[23] Nahjul Balâghah , Khutbah 289:1:106, cet. Subhi Saleh.
[24] Nahjul Balâghah , Khutbah 83.
[25] Nahjul Balâghah , Khutbah 133.
[26] Syarah Nahjul Balâghah , karya Ibnu Abil Hadîd, 8:276.
[27] Wasâ`il Asy-Syi'ah, 14:130; Furû' Al-Kâfî, 5:559; Mîzânul Hikmah, jilid 10.
 [28] Ghuraul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:134.
[29] Biharul Anwâr , 73:7. [30] Biharul Anwâr , 73:7. [31] Biharul Anwâr , 72:166.
[32] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:190.
[33] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:190.
[34] Biharul Anwâr, 73:97.
[35] Biharul Anwâr, 13:354 dan 73:67-73.
[36] Biharul Anwâr, 76:364 dan 73:103.
[37] Biharul Anwâr, 73:104. [38] Biharul Anwâr, 70:107.
[39] Biharul Anwâr, 77:177.
[40] Kanzul ‘Ummâl : 4664. [41] Nur Ats-Tsaqalain , 5 : 15.
[42] Kanzul ‘Ummâl : 4444.
[43] Nur Ats-Tsaqalain , 5:594; Mîzânul Hikmah, 3:326-327.
[44] Nur Ats-Tsaqalain , 5 : 594; Mîzânul Hikmah, 3:326-327.
[45] Bihârul Anwâr , 71:81.
[46] Bihârul Anwâr , 4:73. [47] Bihârul Anwâr , 14:74.
[48] Ghurarul Hikam :243; Nahjul Balâghah, 2: 282, Al-Hikmah, 2:343.
[49] Ghurarul Hikam, 2:221.
[50] Ghurarul Hikam, 3:326.
[51] Bihârul Anwâr , 73:127. [
52] Nahjul Balâghah, 2: 282, Khutbah ke-113.
[53] Nahjul Balâghah, 2: 282, Khutbah ke-113.







BAGIAN KEENAM

Telaah Analitik tentang Dunia dan Akhirat


Nash-nash di atas tidak bisa cliragukan lagi kesahihannya, baik dari sisi sanad ataupun matan. Jumlah mereka banyak sekali dan semuanyu dapat dipercaya. Mereka tidak hanya berkenaan dengan hal-hal yang haram saja, tapi juga rnencakup yang halal. Allah berfirman: "Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yung baik". Katakanlah: "Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalain kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Q.S. Al-A'râf:32.
Kalau demikian, bagaimanakah cara kita memahami berbagai nash tersebut? Dan bagaimana kita mendamaikan riwayat-riwayat itu dari satu sisi, dan ayat-ayat yang baru saja kita baca yang mengajak menikmati rizki yang telah dianugrahkan Allah untuk hamba-hamba-Nya dan mengingkari orang-orang yang mengharamkannya, dari sisi yang lain? Selanjutnya, saya berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui beberapa butir penting yang, Insya-Allah, akan menyampaikan kita pada inti jawaban:
Hadis-hadis itu tidak berarti bahwa Islam melarang para pemeluknya untuk memanfaatkan dan menikmati rizki Allah. Karena, hukum perhiasan dan keindahannya itu ibâhah (mubah), kecuali jika Allah melarangnya. Allah berfirman: "Katakanlah: "Siapakak yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengarahkan) rizki yang baik?" Katakanlah: "Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalarn kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." Q.S. Al-A'râf:32. Sejumlah nash itu juga tidak menganjurkan manusia bermalas-malas dalam berusaha di atas bumi ini. Karena, bukum Allah dalam masalah ini tertera dalam firman Allab: "Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”. Q.S. Al-Jumu'ah:10. Akan tetapi, agar usaha manusia di dunia tidak menyita seluruh hidupnya, maka ia mesti ditujukan untuk Allah. Allah berfirman: "Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." Q.S. Al- Qashash:77. Pada prinsipnya, gerak-gerik manusia itu untuk akhirat, tapi dia tidak boleh sampai melalaikan bagiannya di dunia.
Meskipun penjelasan di atas tidak perlu diragukan keabsahannya, namun oposisi antara dunia dan akhirat bukan saja dalam ruang lingkup yang haram, tapi mencakup juga yang halal. Imam Ali as berkata: "Dunia dan aklnrat adalah dua musuh yang berseteru dan dua jalan yang berbeda. Barangsiapa rnencintai dunia dan patuh padanya, pasti membenci akhirat dan memusuhinya. Dunia dan akhirat bagaikan arah tirnur dan barat, dan pejalan yang semakin mendekat pada yang satu berarti menjauh dari yang Lain. Keduanya sejauh dua istri yang dimadu."[1]
Segala kemewahan yang baik dan halal yang dinikmati manusia tidak akan membawa siksa baginya. Karena Allah tidak mengharamkannya. Akan tetapi, perolehannya dari kenikmatan duniawi berbanding terbalik dengan perolehannya dari kenikmatan ukhrawi. Hal itu, karena kenikmatan duniawi biasanya mengurangi kesempatan seorang untuk memperoleh yang di akhirat. Inilah arti implisit clari benturan dunia dan akhirat pada lingkup yang halal.
Di bawah ini akan saya berikan beberapa contoh yang dapat memperjelas permasalahan: a. Selagi ada umur, dan memungkinkan kita melakukan puasa - yang wajib di bulan Ramadhan dan sangat disunahkan di hari-hari lainnya - kita harus melakukannya. Abu Ja'far Al-Bâqir as meriwayatkan dari Rasulullah SAWW, beliau bersabda: Allah SWT berfirman: "Puasa hanyalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalas pahalanya."[2]
Setiap kali manusia tidak berpuasa, clia akan kehilangan pahala yang besar yang tidak diketahui pahalanya kecuali oleh Allah SWT. Dengan kata lain, setiap hari yang dilalui manusia tanpa puasa; merasakan lezatnya makanan dunia akan mengurangi bebempa kelezatan yang akan didapatkannya di surga yang lidak diketahui kecuali oleh Allah.
Saya tidak sedang mengatakan tentang tidak berpuasa dengan memakan-makanan haram. Saya hanya ingin mengatakan bahwa orang yang tidak berpuasa (dan memakan rizki yang halal sekalipun) akan kehilangan peluang emas merraih kelezatan-kelezatan uhkrawi. Ini adalah cnntoh "benturan" antara dunia dan akhirat dalam lingkup yang halal. b. Setiap malam yang digunakan seorang untuk tidur, tak diragukan lagi, adalah kenikmatan dunia yang sangat besar sekaligus halal. Tetapi, tidur itu ''rugi", karena dia bisa melewatkannya dengan salat nafilah atau mendapat pahala salat tahajjud di tengah malam. Apabila Allah telah mentakdirkan seseorang hidup selama 70 tahun, maka Allah juga telah memberikan kesempatan baginya untuk mendapat pahala sepenuhnya selarna 70 tahun itu. Dan setiap malam yang dia lewatkan tanpa salat akan mengurangi sesuatu yang telah "ditakdirkan"-Nya.
Sehingga menjelang 70 tahun, dia berada dalam kelalaian dan ketersia-siaan. Dan dia habiskan kenikmatan yang Allab SWT anugrahkan padanya ini. "Sekiranya dia tekun melakukan ibadah kepada Allah SWT". e. Jika Allah telah menganugrahkan sejumlah harta benda pada seorang hamba, berarti Allah juga telah memberinya kesempatan yang luas guna memperoleh kesenangan-kesenangan akhirat dengan menginfakkannya. Maka, setiap kali manusia mengeluarkan barlanya guna menuruti kesenangan- kesenangannya saja, dia akan kehilangan kesenangan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Begitulah manusia dilahirkan dengan dibekali modal kesempatan yang hesar untuk memperoleh kesenangan-kesenangan akhirat. Harta, umur. masa muda, kesehatan, kecerdasan, kedudukan sosial, pengetahuan dan lain sebagiannya merupakan modal yang memungkinkan manusia memperoleh lebih banyak pahala di akhirat. Allah SWT berfirman: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian..." Q.S. Al-A'shr 1-2. Kerugian pertama yang dijelaskan ayat ini ialah kerugian beberapa "modal"-nya. Kedua, kesempatan dan peluang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk mendapat kenikmatan-kenikmatan akhirat yang lebih banyak. Setiap kali manusia teledor dalam menjalankan modalnya dan mengeluarkannya untuk pemuasan syahwat, maka pada hakikatnya dia telah melewatkan peluang mendapat keindahan-keindahan akhirat yang telah dijanjikan Allah SWT. Amirul Mukminin as mempunyai untaian kata yang sangat indah dan mengena dalam menggambarkan pengertian ini: "Ketahuilah bahwa dunia adalah tempat bencana, tidak terluang sesaat pun darinya, kecuali ia akan (berubah) menjadi penyesalan bagi penghuninya di hari kiamat."[3]
Maksud kata al-farâgh (waktu luang atau kosong) di sini, adalah kekosongan dari mengingat Allah dan amal untuk-Nya; menonaktifkan anggota tubuhnya untuk berbuat di jalan Allah dan berdzikir kepada-Nya. Meskipun kekosongan sesaat ini tidak untuk bermaksiat kepada Allah, namun, pada hakikatnya, ia tetap penyesalan di hari kiamat. Sebab dia telah menyia-nyiakan sebagian dari kenikmatan usia, kesadaran dan kalbu yang telah dianugrahkan Allah untuk berdzikir dan taat kepada Allah. Di samping itu, dia telah membiarkan keridhaan Allah SWT dan rizki ukhrawi-Nya lepas begitu saja tanpa bisa didapat kembali setelah itu. Lebih lagi, semua kenikmatan yang diperolehnya setelah itu tidak bakal mungkin mengganti yang telah ia lewatkan.
3. Termasuk dari sunnatullah ialah membuat gerak pertumbuhan, integrasi dan taqarrub manusia kepada Allah SWT melalui jalan yang berduri, penuh derita kemiskinan, ganasnya cobaan dan kesengsaraan. Allah berfirman: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: " Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?". Q.S. Al-‘Ankabût:2. Allah berfirman: "Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan...". Q.S. Al-Baqarah:155. Allah berfirman: "...kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaran dan kernelaratan, supaya rnereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan din". Q.S. Al-Mâ'idah:42.
Ayat yang akhir ini menjelaskan pada kita ciri hubungan antara bergeraknya manusia menuju Allah dan cobaan, rasa takut, kelaparan dan kemiskinan manusia. Karena, tersimpuh di haribaan Allah adalah sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bersimpuh (tadharru') tidak menjadi nyata dalam kehidupan manusia kecuali melalui kekurangan dalam jiwa dan harta benda, ketakutan, kelaparan dan kesulitan. Kalau demikian, setiap kali manusia menikmati kelezatan- kelezatan dunia, ia akan kehilangan kesempatan "bersimpuh" kepada Allah dan dengan sendirinya akan kehilangan kesempatan bergerak dan tagarrub kepada-Nya dan menikmati kelezatan-kelezatan akhirat. Derita kemiskinan ini kadang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh agar mereka terus- menerus bersimpuh di hadapan-Nya. Dan kadang juga hamba-hamba Allah itu sendirilah yang memilih kehidupan yang demikian itu.
4. Salah-satu penyebab tercegahnya hasrat menikmati kesenangan-kesenangan dunia ialah rasa takut terseret kepada cinta dunia yang menjauhkannya dari Allah SWT dan keindahan-keindahan akhirat. Karena hubungan antara hasrat menikmati kesenangan-kesenangan dunia dan cinta padanya adalah hubungan timbal balik. Dengan kata lain, menikmati keindahan dunia menimbulkan hubbud-dunyâ (cinta dunia) pada diri manusia yang, pada gilirannya, akan mendorong seorang untuk tergesa-gesa mendapat keindahan ukhrawi di dunia dan terbuai olehnya.
Maka, agar seorang tidak menjadi mangsa hubbud-dunyâ secara tak disadari, hendaknya dia "berhati- hati" oleh kesenangan-kesenangan dunia. 5. Seringkali kita temukan nash-nash keislaman sesuatu yang tidak seirama dengan konsep yang telah kami jelaskan, seperti nash dari Amirul Mukminin Ali as dalam surat perjanjian yang beliau berikan pada Muhammad bin Abu Bakar, ketika beliau mengangkatnya sebagai gubernur Mesir. Imam Ali as berkata: "Ketahuilah - wahai hamba Allah - bahwa orang-orang yang bertakwa membawa "cepatnya dunia" dan "lambatnya akhirat". Mereka bergabung dengan ahli dunia saat berada di dunia, dan tidak bergabung dengan mereka saat niereka berada di akhirat. Di dunia mereka tlnggal di tempat yctng sebaik-baiknya. Mereka memakan sebaik-baik makanan. Bagian dunia rnereka seperti yang diperoleh arang kaya. Mereka mengambil dari dunia sebagaimana yang diambil penguasa kejarn, kemudian meninggalkannya dengan menbawa bekal yang banyak sebagai pedagang yang sukses.
Mereka telali memperoleh lezatnya zuhud di dunia saat berada di dalamnya. Mereka berrkeyakinan bahwa kelak bakal menjadi tetangga Allah di akhirat. Doa mereka tidak pernah ditolak dan kelezatan yang mereka peroleh tidak pernah dikurangi."[4] Inti nash tersebut ialah perbandingan antara orang yang takwa dan yang tidak. Konteks nash ini tidak sama dengan konteks nahs-nash yang telah lewat. Karena, nash-nash yang lewat menjelaskan perbandingan antara derajat orang-orang bertakwa dan yang tidak bertakwa. Jelas bahwa keduanya adalah masalah yang berbeda begitu pula dengan hukumnya.

Penglihatan yang Menerawang Dunia
Jika kita lewati cara pandang yang dangkal terhadap dunia, maka kita akan menemukan cara pandang lain yang berbeda dari dimensi kedalaman, kesungguhan dan ketajamannya. Penglihatan ini mampu menembus fenomena kehidupan dunia ke kedalaman batinnya. Jika penglihatan yang dangkal terhadap dunia akan membangkitkan cinta dunia dan ketertipuan pada diri manusia, maka penglihatan yang menembus dan mendalam terhadap dunia akan memberikan kezuhudan dan apatisme pada dunia.
Hal yang demikian ini akibat ketajaman penglihatan yang mampu menembus sesuatu yang ada di balik lahiriah kehidupan dunia, dan menyingkap sirnanya kesenangan dunia dan perubahannya serta kesudahan manusia di dalamnya, sehingga membuatnya zuhud pada dunia. Nash-nash keislaman lazimnya menitik-beratkan cara pandang yang demikian itu terhadap dunia dengan memperingatkan kematian, mengingatkannya, larangan memperpanjang lamunan pada dunia atau dengan menganjurkan agar tidak lalai akan mati. Kematian merupakan bentuk batin dunia yang mana manusia berusaha lari dan melupalupakannya. Dalam sehuah riwayat disebutkan demikian: "Tiada keyakinan yang paling serupa dengan keraguan daripada kematian."
Kematian adalah kepastian yang tak ada jalan untuk diragukan. Walaupun demikian, banyak manusia yang berupaya lari dan berpura-pura lupa terhadapnya. Dalam nanh-nash keislaman berikut ini terdapat pengertian yang berlawanan dengan apa yang telah saya utarakan. Imam Al-Baqir as berkata: "Perbanyaklah mengingat kematian. Tak seorang pun yang sering mengingat kematian kecuali dia akan berzuhud pada dunia."[5] Amirul Mukminin as berkata: "Barangsiapa membayangkan kematian di antara kedua matanya, maka urusan dunianya menjadi remeh di hadapannya."[6]
Imam Ali as berkata juga: "Manusia yang paling pantas bersikap zuhud ialah yang mengetahui kekurangan (kecacatan) dunia."[7]
Imam Al-Kâzhim as: "Orang yang berakal ialah yang zuhud terhadap dunia dan cinta akhirat. Karena, mereka mengetahui bahwa dunia ada 'yang mencari' dan ada 'yang dicari'. Begitu pula akhirat; ada yang mencari dan ada yang dicari. Maka barangsiapa yang mencari akhirat, dunia akan mencarinya sehingga ia mengambil dengan sempurna rizkinya. Dan barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat mencarinya, maut mendatanginya dan merusak urusan dunia dan akhiratnya”.[8]
Imam Al-Kâzhim as pernah menghadiri jenazah, lalu beliau berkata: "Sesungguhnya sesuatu yang pertamanya begini (mati) pantas sekali untuk ditakuti akhirnya."[9]
Riwayat-riwayat ini menerangkan hubungan antara zuhud dan mengingat mati atau dalam ibarat yang lain antara cara pandang dan prilaku. Karena, mengingat kematian adalah cara pandang, - seperti yang telah dijelaskan - dan zuhud adalah bentuk prilaku. Dalam rangka mengarahkan dan membudayakan cara pandang yang benar ini, Amirul Mukminin as berkata: "Jadilah kalian orang-orang yang pergi meninggalkan dunia dan rindu akhirat... Jangan terperdaya oleh gemerlapnya, jangan dengarkan perkataan orang yang ada di dalamnya, jangan pedulikan orang yang mengajak padanya, jangan terangi diri kalian dengan sinarnya dan jangan terkecoh oleh pelbagai pemikatnya. Sesungguhnya kilatannya menyilaukan, ucapannya kebohongan, harta bendanva tersita dan perhiasannya hilang."[10]
Imam Ali as pernah pula berseru: "Keluarkanlah hati kalian dari dunia sebelum badan kalian dikeluarkan darinya."[11]
Mengeluarkan hati dari dunia artinya memutus hubungan dengannya atau "mati dengan kehendak sendiri" (al-maut al-irâdî) sebagai lawan dari "keluarnya jasad dari dunia" atau "mati terpaksa" (al-maut al- qahrî) atau mati yang tidak dihendaki (al-maut allâ-irâdî). Imam menyuruh kita mendahulukan mati yang terpaksa dengan mati yang dikehendaki. Memutus hubungan dengan dunia adalah zuhud. Sebaiknya, kita membahas masalah zuhud ini sampai kita bisa memiliki pandangan yang menembus ke batin kehidupan dunia dan apa hubungannya dengan zuhud.

Zuhud
Zuhud adalah lawan dari hubbud-dunyâ (cinta dunia). Keduanya merupakan dua prilaku yang bersumber dari dua pola pandang terhadap kehidupan dunia. Dan zuhud merupakan prilaku yang bersumber dari pandangan yang menembus batin dunia itu. Hubbud-dunyâ ialah keadaan bergantung pada dunia. Berbeda dengannya, zuhud adalah keadaan bebas dari dunia. Pengertian ini perlu lebih dijelaskan. Saya katakan bahwa hubbud-dunyâ terkristal dalam dua keadaan berikut: gembira dan susah. Gembira, dengan apa yang didapat dari kesenangan-kesenangan dunia yang merupakan sisi positif hubbud-dunyâ.
Susah, atas apa yang hilang darinya berupa kelezatan-kelezatan dan kesenangan-kesenangannya - yang merupakan sisi negatif darinya -. Maka karena zuhud adalah lawan dari hubbud-dunyâ, maka zuhud pada hakikatnya adalah bebas dari kegembiraan dan kesusahan duniawi itu. Allah SWT berfinman: "... supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang hilang darimu dan terhadap apa yang meinmpamu...". Q.S. Âli ‘Imrân:153. Allah berfirman: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira tarhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." Q.S. Al-Hadîd:23. Imam Ali as berkata: "Sebenamya pengertian zuhud terdapat di antara dua kata yang ada dalani Alquran, yaitu: "supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.." Barangsiapa yang tidak rnenyesal atas yang hilang/tidak diperoleh dan tidak gembiru dangan harta yang datang, maku dialah orang zuhud."[12]
Imam Ali as berkata: "Zuhud ialah makna yang terdapat di antara dua klause yang ada dalam Alquran ini, "supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yatig diberikan-Nya kepadamu". Barangsiapa tidak rnenyesali benda yang telah hilang dan tidak gembira dengan benda yang datang, maka dia benar-benar telah menjalankan kedua sisi zuhud."[13]
Imam Ali as berkata pula: "Siapa yang sedih terhadap dunia, maka dia telah marah pada keputusan Allah. Dan siapa yang hatinya bergelora dengan kecintaan padanya, maka hatinya diserang oleh tiga penyakit; kesumpekan yang tidak ahan pernah hilang, ketamakan yang tidak pernah meninggalkannya, angan-angan yang tidak pernah dijangkaunya."[14]
Ini adalah arahan untuk pembebasan manusia dari kesedihan dan kegembiraan duniawi. Jadi, sedih terhadap dunia berarti murka atas keputusan Allah, karena tidak ada suatu apa pun yang hilang dari manusia melainkan sudah diputuskan dan ditakdirkan-Nya. Hubbud-dunyâ membebani manusia dengan tiga keadaan: kesumpekan, ketamakan, dan angan-angan yang membinasakan, menyiksa dan mengalutkan manusia. Amirul Mukminm as berkata: "Wahai manusia! Ada tiga (golongan yang menyikapi) dunia. Orang zâhid, rakus dan sabar. Orang zâhid tidak akan gembira dengan dunia yang diperolehnya dan tidak susah atas sesuatu yang hilang darinya. Orang yang sabar, hatinya berharap mendapat dunia, tapi jika dia menemukannya, dia berpaling darinya karena dia tahu akibat jeleknya. Dan orang yang rakus ialah yang tidak perduli apakah dia mendapatkannya dengan jalan yang halal atau haram."[15]
Ucapan Imam ini merupakan nash yang sangat indah dalam mendefinisikan pengertian zuhud, mengklasifikasi manusia dan kedudukan orang zuhud. Menurutnya, ada tiga macam manusia: orang yang zuhud yaitu yang bebas dari dunia, kegernbiraan dan kesusahannya. Orang yang sabar, yaitu yang belum bisa bebas total, tapi berusaha membebaskan diri dari kesenangan dan kesusahannya. Dan ketiga ialah orang tamak yang sembah sujud pada dunia, perintahnya, kegembiraan dan kesusahannya. Imam Ali as mengajak manusia agar mengalihkan rasa gembira dan susah dari dunia ke akhirat. Hal itu adalah sebaik-baik orientasi rasa gembira dan susah. Kita lebih pantas gembira saat mendapat pahala taat kepada Allah, dan susah saat lepas dari ketaatan dan zikir kepada Allah SWT Dalam suratnya kepada Abdullah bin Abbas, Amirul Mukminin as menulis:
"Ammad ba'du, seorang hamba mestinya bergernbira atas sesuatu yang tidak meninggalkannya dan bersusah atas sesuatu yang belum tentu baik untuknya. Jangan kau jadikan raihan kelezatan dan pelipur kesusahan duniamu, lebih kau utamakan ketimbang memadamkan kebatilan dan menghidupkan kebenaran. Hendaknya kegembiraanmu tertuju pada pencapaianmu, penyesalanrnu tertuju pada ketinggalanmu dan kesumpekanmu tertuju pada (yang akan kau hadapi) setelah kematianmu."[16]
Zuhud lalah Sumber Segala Kebajikan Sebagaimana hubbud-dunyâ sumber segala kejahatan manusia, zuhud ialah sumber segala kebaikan manusia. Hubbud-dunyâ atau cinta dunia menjadikan manusia dalam tawanan dunia dan hawa nafsu, sedang dunia ialah sumber segala kejahatan dan keterjerumusan manusia. Sementara zuhud adalah kebebasan dan keterlepasan manusia dari penjara hawa nafsu dan dunia, yang merupakan sumber segala kebaikan manusia. Dalam berbagai nash keislaman terdapat artikulasi yang berbeda-beda yang menegaskan pengertian ini. Berikut ini saya nukilkan beberapa di antaranya. Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Seluruh kebaikan dijadikan dalarn sebuah rumah dan kunci pernbukanya adalah zuhud di dunia."[17]
Imam Ali as berkata: "Zuhud adalah induk agama."[18]
Imam Ash-Shadiq as berkata: "Zuhud adalah asas agama."[19]
Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Zuhud adalah kunci pembuka pintu akhirat dan penyelamat dari neraka. Zuhud berarti meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Allah tanpa sesal atas kehilangannya, ujub dalam meninggalkannya, rnenunggu kelonggarannya, mencari pujian dengannya dan rnencari ganti darinya. Bahkan kamu melihat kehilangan dunia adalah kesenangan dan kehadirannya adalah petaka. Sementara karnu selalu lari dan petaka dan berpegangan dengan kesenangan."[20]
Imam Ali as berkata: "Zuhud kunci pembuka kesejahteraan."[21]
Pengaruh-Pengaruh Psikologis dan Behavioral (Prilaku) Pada Zuhud Zuhud mempunyai banyak pengaruh dan dampak pada kehidupan manusia. Antara lain: I. Pendek Angan-angan Zuhud menghasilkan "angan-angan yang pendek" kebalikan dari hubbud-dunyâ. Bila manusia sedikit bergantung pada dunia dan bebas dari tawanannya, maka angan-angannya tidak akan panjang. Lebih-lebih, dia akan tetap menikmati kesenangan dunia, tapi tanpa harus melupakan kematian dan memutusnya secara spontan. Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa yang mencintai dunia, dan angan-angannya panjang, maka Allah akan membutakan hatinya menurut kadar kecintaannya pada dunia. Dan barangsiapa zuhud terhadapnya dan angan-angannya pendek, maka Allah akan memberinya pengetahuan tanpa belajar, petunjuk tanpa bimbingan (orang lain) dan menghilangkan kebutaannya dengan menjadikannya jeli."[22]
Dari kandungan riwayat itu dapat kita simpulkan bahwa zuhud membawa pada sedikitnya angan-angan. Dan sedikitnya angan-angan membawa pada bashîrah dan hidayah. Sementara mencintai dunia menyebabkan panjangnya angan-angan yang menyebabkan kebutaan. Gerangan apakah rahasia hubungan antara pendeknya angan-angan dan bashîrah (melihat) ini? Panjangnya angan-angan akan menguatkan kebergantungan manusia pada dunia dan kecintaan dunia pada diri sendiri. Dan hubbud-dunyâ akan menutupi (menghalangi) manusia dari Allah SWT. Maka jika angan-angannya pada dunia pendek (sedikit), maka akan tesingkap tabir yang menutupi hati dan bashîrahnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Zuhud pada dunia adalah pendeknya angan-angan, syukur atas kenikmatan dan bersikap wara' (hati-hati) terhadap segala sesuatu yang diharamkan Allah."[23]
Imam Ali as herkatu: "Zuhud akan memperpendek angan-angan dan mengikhlaskan amal."[24]
Imam Ali as juga berkata: "Wahai manusia, zuhud adalah pendeknya angan-angan, syukur terhadap nikmat dan jauh dari yang haram. Bila ini tidak mungkin kalian lakukan, rnaka (paling tidak) janganlah sampai yang haram mengalahkan kesabaranmu dan lupa mensyukuri nikmatmu. Allah telah memberikan alasan (‘uzur) kepadamu dengan hujjah-hujjah yang jelas dan terang dan Kitab-kitab yang tampak dan jelas."[25]
2. Merdeka dari Aksi-reaksi Duniawi Artinya, dia terbebas dari rasa gembira terhadap apa yang didapatkan dan dari rasa sedih atas apa yang hilang dari dunia. Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang tidak menyeaal atas harta benda yang telah lalu (hilang) dan tidak gembira pada harta benda yang akan datang, maka ia benar-benar telah memegang 'dua ujung zuhud'."[26]
Imam Ali mempunyai untaian kata indah berkenaan dengan permasalahan ini dalam menyifati hasil-hasil zuhud terhadap kehidupan manusia yang saya nukil dari kitab "Nahjul Balâghah" sebagaimana berikut ini: "Perdengarkanlah panggilan maut pada telinga-telinga kalian, sebelum ia memanggil kalian. Orang-orang yang zuhud pada dunia, menangis hati mereka rneski tersenyum wajah mereka. Gundah-gulana, meski tampak gernbira-ria. Mereka sering mencaci jiwa, meski bersimbahkan rizki yang mereka miliki. Sungguh telah sirna pengingatan terhadap kematian dari hati kalian dan selalu hadir lamunan-lamunan palsu di sisi kalian sehingga dunia rnenjadi lebih kalian rniliki daripada akhirat.
Al-'Âjilah (pakai 'ain [duina]) lebih mengesankan kalian daripada 'Âjilah (pakai harnzah [akhirat]). Dan sebenarnya kalian satu saudara dalam agama Allah, hanya saja kalian telah dicerai-beraikan oleh perasaan-perasaan jahat dan lintasan-lintasan jelek sehingga kalian tidak saling kunjung, tidak saling menasihati dan tidak saling memberi hadiah serta tidak saling rnencintai! "Apa gerangan yang kalian sukai dari dunia yang sedikit yang kalian dapatkan dengan susah ? Dan Apa gerangan yang tidak menyusahkan kalian dari berbagai kemewahan akhirat yang tidak kalian peroleh. Dunia yang sedikit dan bakal meninggalkan kalian, selalu menggelisahkan kalian sehingga tampak di raut wajah kalian rasa sedikit kesabaran dari dunia yang hilang. Dunia (menurut kalian) seakan-akan tempat abadi kalian dan harta benda (kemewahan)nya selalu abadi pada kalian. Tidaklah ada orang yang takut menemui saudaranya akibat celanya, kecuali, karena dia takut menemui hal yang serupa dengan celanya. Kalian sudah bertekat untuk meninggalkan akhirat demi mencintai dunia. Agama kalian bak buah bibir, aksi yang ditakuti dan untuk menjaga kerelaan tuannya.”[27]
3. Menghilangkan Kecondongan terhadap Dunia Termasuk pengaruh psikologis zuhud ialah tiadanya kecondongan terhadap kehidupan duniawi karena hilangnya anggapan bahwa dunia adalah tempat tinggal yangabadi. Dan jika manusia telah mengeluarkan hubbud-dunyâ dari hatinya serta mencabut jiwanya dari ketergantungan pada dunia, maka dia tidak akan pernah lagi condong kepadanya. Baginya, dunia ialah jalan dan jembatan menuju akhirat. Manusia memandang dunia dengan dua bentuk.
Sebagiannya ada yang melihat dunia sebagai tempat tinggal (yang abadi) lalu condong padanya. Dan ada yang memandangnya sebagai sarana dan jembatan yang mengantarkannya melintas ke akhirat, maka dia tidak akan condong padanya. Kedua golongan ini sama-sama hidup di dunia dan memakmurkannya serta menikmati anugrah dari Allah. Namun, kelompok pertama, jiwanya cenderung pada dunia dan menjadikannya sebagai tempat abadi kemudian kematian sungguh akan mencabutnya dari dunia. Sementara kelompok kedua menjadikannya sebagai jembatan dan lintasan, maka jiwanya tidak akan cenderung terhadapnya dan tidak menderita karena berpisah darinya ketika kematian mencabutnya secara paksa. Dalam nash-nash keislaman ada beberapa permisalan yang indah yang menggambarkan keadaan manusia di dunia.
Manusia di dunia, misalnya, laksana musafir yang bernaung sesaat di bawah kerindangan pohon di pinggir jalan, supaya panas terik matahari tidak menyengatnya dan ia bisa istirahat barang sejenak. Kemudian dia meninggalkan pohon tersebut dan meneruskan perjalanannya. Begitulah keberadaan (bertempat tinggalnya) manusia di dunia. Lalu apakah pantas manusia mejadikan dunia sebagai tempat tinggal yang sangat diharapkannya? Rasulullah SAWW bersabda: "Apa urusanku dengan dunia? Aku seolah pengendara yang beristirahat di waktu siang di bawah naungan sebuah pohon di suatu hari yang sangat panas untuk sesaat, kemudian berangkat dan rneninggalkan pohon tersebut."[28]
Dalam wasiat kepada putranya Al-Hasan, Imam Ali berkata: "Wahai anakku! Telah kujelaskan kepadamu tentang dunia dan keadaannya, kesirnaannya dan keberpindahannya. Telah kujelaskan juga kepadamu tentang akhirat dan apa yang disediakan buat para penghuninya. Tentang keduanya, telah kuajukan kepadarnu berbagai perurnpamaan yciiig bisa kau ambil pelajarannya dan kau ikuti arahnya. Orang yang mengenal dunia akan tahu bahwa ia seumpama tempat yang menawan yang telah rusak diinjak- injak sekelompok musafir dan ladang yang subur yang sudah dipakai. la adalah jalan yang terjal, tempat perpisahan teman dan kepayahan perjalanan..."[29]
Suatu ketika Umar bin Khatab menemui Rasulullah SAWW yang yang tergores punggungnya oleh tikar. Lalu umar berkata: "Wahai Nabi (SAWW), alangkah baiknya seandainya Anda membuat kasur yang lebih baik dari itu?” Rasulullali SAWW bersabda: "Apakah urusanku dengan dunia kecuali bagaikan orang yong berjalan di musim kemarau lalu ia berteduh di bawah pepohonan sesaat pada waktu siaug, kemudian berangkat lagi dan meninggalkan tempat tersebut.”[30]
Imam Ali as berkata: "Sungguh dunia bukanlah tempat tinggal yang langgeng dan kekal. Sungguh kalian yang ada di dalamnya bak para rnusafir yang bersantai sejenak dan melepaskan lelah kemudian bergegas berangkat lagi. Mereka memasuki dunia dengan ringan dan meninggalkannya dengan berat. Mereka tidak mendapatkan apa yang diharapkan dari dunia dan apa yang mereka tinggalkan tidak bakalan kembali lagi".[31]
Nabi SAWW pernah ditanya: ''Bagaimanakah keadaan manusia di dunia? Beliau menjawab: "Bagaikan kafilah yang berjalan."
Beliau ditanya lagi: "Berapa lama mereka bertempat di sana (dunia)?”
Beliau menjawab: "Seperti orang yang ditinggal kafilah (lalu menyusulnya)”.
Ditanya lagi: "Berapa lama antara dunia dau akhiral?”
Beliau menjawab: "Sekejap rnata. Allah SWT berfirman: ... (maka) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.”  Q.S. Al-Ahqâf:35.[32]
Ali as berkata: "Dunia bagaikan bayangan awan dan mimpi orang yang tidur."[33]
Imam Al-Bâqir as berkata: "Sesungguhnya dunia menurut pandangan ulama bagaikan bayangan."[34]
Imam Ali as berkata: "Ingatlah! Sesungguhnya tidak selamat, kecuali orang yang berada di rumah. Dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata). Di dalamnya, manusia dicoba dengan fitnah. Apa yang diambilnya dari dunia untuk dunia semata akan dilepaskan darinya (oleh maut) dan diperhitungkan. Dan apa yang diambil darinya untuk di luarnya (akhirat), maka ia akan memberinya nikmat di dunia dan akan menjadi temannya menuju akhirat. Bagi yang berakal, dunia itu laksana bayangan; sesekali meluas dan di lain waktu rnengingsut dan sesekali bertambah dan di waktu lain berkurang."[35]
 Dunia sebagai Jembatan akhirat Dengan pandangan ini, Islam mempersenjatai umatnya. Maka, bagi muslim, dunia adalah jembatan yang akan ia buat melintas bukan untuk ia huni selamanya. Pandangan yang istimewa terhadap dunia ini akan melahirkan keadaan yang istimewa, yaitu keadaan yang tidak berunsur kecondongan pada dunia dan tidak pula memunculkan prilaku tertentu (jelek) di dalam dunia. Isa Al-Masih as pernah berkata: "Dunia hanya jembatan (akhirat)".[36]
Imam Ali as berkata: "Hai manusia, sesungguhnya dunia hanyalah tempat berlalu, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang abadi, maka ambillah (berbekallah) dari ternpat melintasmu untuk tempat menetapmu. Janganlah kamu robek (pudarkan) tabir-tabirmu di hadapan Dzat yang Mengetahui rahasia- rahasiamu".[37]
Imam Ali as berkata: "Dunia ternpat melintas yang sementara bukan tempat menetap yang abadi. Ada dua macam manusia di dalamnya yang menjual diri lalu menyengsarakannya dan yang membeli jiwanya lalu memerdekakannya".[38]
Interaksi Sebab dan Akibat Salah satu keunikan cakrawala pemikiran Islam ialah penemuan hubungan interaktif antara sebab dan akibat (hasil) dalam berbagai masalah kemanusiaan. Kadang hubungan kausal antara dua hal yang bersifat interaktif. Masing-masing mempengaruhi yang lainnya secara positif. Contoh-contohnya banyak sekali dalam masalah-masalah kemanusiaan seperti hubungan antara zuhud dan bashîrah. Bashîrah mengajak manusia pada zuhud dan zuhud mengajak manusia pada bashîrah. Di bawah ini akan kami sebutkan dua kelompok nash yang masing-masing membahas satu persatu dari keduanya. Hubungan Zuhud dengan Bashîrah Kami nukilkan hadis dari Rasulullah SAWW yang menafsirkan firman Allah: "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerirna) agama Islam lalu la mendapat cahaya dan Tuhannya ..." Q.S. Az-Zumar:22.
 Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya bila nur (cahaya) menetap di hati, maka ia (hati) akan, melebar dan meluas." Rasulullah ditanya oleh para sahabatnya: "Apakah yang demikian itu ada tandanya?” Rasulullah SAWW menjawab: "Menghindar dari tempat tipuan (dunia) dan kembali ke tempat yang abadi serta mempersiapkan diri untuk menghadapi maut sebelum datangnya ajal."[39]
Imam Ali as berkata: "Manusia yang paling berhak menyandang kezuhudan adalah orang yang mengetahui kekurangan (keaiban) dunia."[40]
Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang membayangkan kematian di antara kedua rnatanya, rnaka urusan dunianya akan menjadi hina dihadapannya."[41]
Imam Ali as berkata: "Kezuhudan seseorang pada sesaatu yang akan sirna sebanding dengan keyakinannya terhadap sesuatu yang akan kekal."[42]
Hubungan Bashîrah dengan Zuhud Rasulullah SAWW bersahda: "Wahai Abu Dzar, tidaklah seorang hamba zuhud di dunia kecuali Allah tumbuhkan hikmah dalam hati dan lidahnya, Allah memperlihatkan kehinaan, penyakit dan obat baginya, dan Allah mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju ke surga."[43]
Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa mencintai dunia, lalu memanjang angan-angannya, maka Allah akan membutakan hatinya menurut kadar kecintaannya pada dunia. Barang siapa zuhud terhadapnya, lalu pendek angan-angannya, maka Allah akan memberikan pengetahuan tanpa belajar dan petunjuk tanpa bimbingan (orang lain) dan Allah juga akan menghilangkan darinya kebutaan serta menjadikannya melihat."[44]
Suatu hari Rasulullah SAWW keluar (rumah) lalu beliau hersabda: "Adakah di antara kalian orang yang menginginkan agar Allah memberinya ilmu tanpa belajar dan petunjuk tanpa bimbingan?
Adakah di antara kalian orang yang menginginkan agar Allah menghilangkan (kebutaan) dan menjadikannya melihat? Ingatlah bahwa orang yang zuhud pada dunia dan pendek angan-angannya, maka Allah akan memberinyo ilmu tanpa belajar dan hidayah tanpa ada orang yang menunjukinya."[45]
 Rasulullah SAWW as bersabda: "Wahai Abu Dzar! Jika kamu melihat saudaramu sudah benar-benar berzuhud pada dunia, maka dengarkanlah ucapannya, karena dia telah diberi hikmah".[46]
Beginilah sinergi yang ada antara bashîrah clan zuhud. Zuhud menyebabkan bashîrah dan bashîrah menyebabkan zuhud. Begitu pula sinergi yang ada antara zuhud dan pendeknya angan-angan pada dunia. Dalam hubungan antara pendeknya angan-angan dan zuhud telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as sebagai berikut: "Zuhud akan melapukkan tubuh, membatasi angan-angan, mendekatkan tujuan (mati) dan menjauhkan hasrat. Siapa yang memegangnya akan capek dan yang melepaskannya akan menderita."[47]
Dalam hubungan antara zuhud dan pendeknya angan-angan. Imam Al-Bâqir as berkata: "Raihlah manisnya kezuhudan dengan memperpendek angan-angan".[48]
Menyingkap hubungan interaktif antara beberapa unsur yang saling berhubungan ini termasuk dari pesona cakrawala pikiran Islam. Sinergisme ini mendorong adanya gerakan yang terus menaik dalam kutub-kutub tersebut. Misalnya, bashîrah akan mewujudkan tingkat tertentu dari zuhud dan zuhud akan menyebabkan tingkat yang lebih tinggi dari bashîrah dan demikian seterusnya. Kemudian, begitulah proses itu terus berlangsung sampai manusia naik ke tingkat-tingkat yang tinggi di antara dua kutub itu. Dunia Tercela dan Dunia Terpuji
1. Dunia Tercela Telah kami sebutkan bahwa dunia mempunyai bentuk lahir dan batin. Bentuk lahir merupakan sumber "ketertipuan" dan menanamkan hubbud-dunyâ dalam jiwa manusia. Dan bentuk batin merupakan sumber pelajaran dan zuhud dalam jiwa manusia. Sementara bentuk lahir dunia adalah "dunia tercela", yang menurut nash Islam, sebagaimana bentuk batin dunia adalah "dunia yang terpuji". Pada hakikatnya, kedua bentuk tersebut merupakan dua pola pandang terhadap dunia seperti halnya yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dunia itu sendiri, pada dasarnya tidak memiliki bentuk-bentuk. Dengan kata lain, jika manusia memandang dunia dengan pandangan tertipu maka dunia baginya tercela.
Namun, jika manusia memandang dunia dengan padangan mengambil pelajaran, maka dunia baginya terpuji. Anehnya, bentuk dunia yang tercela adalah diambil dari bentuk dhahir (fenomenal) yang menggiurkan, menipu dan penuhi dengan pelbagai kelezatan dan syahwat. Berikut ini akan kami sebutkan kumpulan nash keislaman yang menjelaskan bentuk dunia yang tercela. Imam Ali as berkata: "Dunia pasar kerugian".[49]
Imam Ali as berkata: "Dunia tempat terpelantingnya akal”.[50] Dari Imam Ali as juga: "Dunia adalah bahan tertawaan orang yang mengambil pelajaran darinya."[51]
Imam Ali as juga pernah berkata: "Dunia adalah janda yang telah diceraikan oleh orang-orang berakal."[52]
 Imam Ali as juga berkata: "Dunia adalah tarnbang segala kejahatan dan tempat segala ketertipuan."[53]
Imam Ali as berkata: "Dunia tidak akan menjadi jernih bagi orang yang meminumnya (mengambilnya), dan tidak akan jujur terhadap temannya sendiri."[54]
Imam Ali as menyatakan: "Dunia ialah ladang kejahatan."[55] Imam Ali as berkata: "Dunia adalah cita-cita orang-orang celaka (sengsara)."[56]
Imam Ali as juga pernah berkata: "Dunia itu menyerahkan(mu)."[57]
Dari Imam Ali as: "Dunia menghinakan(mu)."[58]
Kewaspadaan Terhadap Dunia Tentang bentuk dunia yang ini, Imam Ali memperingatkan demikian: "Aku peringatkan kalian terhadap dunia! la bukanlah tempat yang patut didamba. la menghias diri dengan tipuan-tipuannya dan menipu dengan hiasan-hiasannya hagi orang yang memandangnya."[59]
Imam Ali as berkata: "Aku peringatkan kalian akan dunia yang manis menggiurkan yang diliputi dengan berbagai syahwat”.[60]
Imam Ali as juga herkata: "Berhati-hatilah terhadap dunia yang menipu dan meninggalkan. la berhias dengan keelokannya dan memfitnah dengan tipuan-tipuannya. la seakan penganten yang dirias untuk ditonton semua mata."[61]
2. Dunia yang Terpuji Bentuk lain dunia atau pola pandang yang lain terhadapnya ialah "yang terpuji". Dan yang mengherankan ialah bahwa pola pandang yang terpuji terhadap dunia ini diambil dari batin dunia yang akan lenyap dan selalu berubah-rubah. Sedang dunia yang tercela diambil dari bentuk lahirnya yang memperdayai, menggiurkan dan penuh kelezatan. Walhasil, dunia mempunyai dua sisi, yang terpuji dan yang tercela. Dunia pada sisinya yang terpuji adalah yang menguntungkan dan tidak merugikan, berguna dan tidak membahayakan. Dunia menurut pengertian ini ialah bekal yang akan menyampaikan seorang ke akhirat, kendaraan orang mukmin, tempat kejujuran dan pasar pahala para wali Allah. Karena itulah, ia tidak pantas dicela.
Mari kita kaji riwayat-riwayat yang memaparkan sisi dunia yang terpuji ini.
1. Dunia yang Menyampaikan (manusia) ke Akhirat Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as berkata: "Dunia ada dua macam; dunia yang menyampaikan (ke akhirat), dan dunia yang terlaknat."[62]
Maksud dari dunia yang menyampaikan ialah dunia yang akan menyampaikan manusia ke akhirat dan menghubungkannya ke Allah. Sedang dunia yang kedua ialah dunia yang terlaknat, yaitu dunia yang akan menjauhkan manusia dari Allah SWT Karena laknat berarti "pengusiran" dan "penjauhan". Jadi, ada dua dunia. Pertama, yang menyampaikan manusia ke Allah dan kedua, yang menjauhkannya dari Allah. Perkara lain yang berkaitan dengan hakikat ini ialah bahwa manusia tidak mungkin meninggalkan dunia tanpa ada salah satu dari dua keadaan ini; dekat ke Allah atau jauh dari-Nya. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Janganlah kalian meminta di dunia lebih dari yang cukup dan janganlah menuntut dari dunia yang lebih dari apa yang bisa menyampaikanmu (ke akhirat)."[63]
Kalau demikian, "sampai" (ke akhirat) adalah tujuan di dunia ini. Dan apa saja yang dicari oleh manusia baik yang berupa harta atau kesenangan haruslah berupa wahana yang akan menyampaikannya ke tujuan tersebut. Maka cukuplah bagi manusia untuk memburu dunia yang bisa membekalinya sampai pada tujuan. Jangan sekali-kali menuntut lebih daripada yang "dibutuhkannya" atau menjadikannya sebagai tujuan yang dikejar-kejar. Karena dunia dan segala isinya termasuk harta benda adalah sarana bukan tujuan. Tujuan satu-satunya manusia ialah mendapatkan sesuatu yang bisa menyampaikannya ke akhirat.
Amirul Mukminin Ali as berkata: "Dunia diciptakan untuk "selainnya", bukan diciptakan untuk dirinya sendiri."[64] Sungguh suatu kesalahan, bila perantara ini diubah menjadi tujuan, sebagimana pula - kesalahan besar - jika perantara ini dijadikan sebagai perantara sekaligus tujuan secara bersamaan. Oleh karena itu, Imam Ali as berkata: "Janganlah kalian menantut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat." Adapun tentang usaha dan upaya demi mendapatkan dunia, Imam Ali as berkata: "Janganlah mencari sesuatu (di dunia) yang melebihi kecukupan." Perkataan ini menjelaskan teori Islam dalam "mencari rizki". Tanpa diragukan lagi bahwa harta benda dunia hanya merupakan perantara kita untuk sampai ke akhirat. Makanya, ia mesti berusaha untuk memperoleh dan mendapatkan sarana yang akan menyampaikannya ke sana. Jadi, yang tidak boleh bagi manusia ialah yang melebihi batas kecukupan (al-kafâf atau sufficiency).
Kecukupan artinya sesuatu yang mencukupi seseorang dan "menyampaikan" (al-balâgh) artinya sesuatu yang memenuhi kebutuhan hidup manusia di dunia. Manusia mempunyai kebutuhan yang hakiki dan khayali atau palsu. Adapun kebutuhan hakikinya, ialah hal-hal yang sudah kita ketahui bersama yang lazimnya dibutuhkan untuk menyambung hidup dan merealisasikan misi "penyampaian". Sedangkan kebutuhan yang khayali dan palsu adalah yang muncul dihadapan manusia dalam bentuk "kebutuhan", yang pada hakikatnya, adalah ketamakan.
Jika manusia menyerah kan dirinya pada kebutuhan ini, maka dia tidak akan pernah berakhir pada batas tertentu dan akan menguras seluruh gerak manusia dan usahanya, dan tidak akan menambah apa-apa baginya selain ketersiksaan dan kerakusan. Diriwayatkan dari Imam Ash-Shâdiq bahwa Amirul Mukminin Ali as pernah berkata: "Wahai anak cucu Adarn, jika kamu rnenginginkan sesuatu yang mencukupimu dari dunia, maka yang sedikit saja darinya akan mencukupimu. Dan jika karnu menginginkan sesuatu yang tidak mencukupimu, maka semua yang ada di dalamnya tidak akan mencukupimu".[65] Pengertian-pengertian yang mendetail ini juga banyak terdapat dalam nash-nash lain, antara lain berikut ini: "Ingatlah! Sesungguhnya dunia ini adalah rumah (orang yang) diselamatkan bukanlah (yang keluar) darinya, tetapi (yang berada) di dalamnya. Dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata). Manusia dicoba di dalamnya dengan fitnah. Apa yang diambilnya dari dunia untuk dunia semata akan dilepaskan darinya (oleh maut), dan diperhitungkan. Dan apa yang diambilnya dari dunia untuk di luar dunia (akhirat), akan memberi kenikmatan di dunia dan akan menjadi teman menuju akhirat. Bagi yang berakal, dunia ini laksana bayangan; sewaktu-waktu ia melebar dan lain waktu ia mengingsut dan mengkerut."[66]
Untaian kata ini walaupun ringkas memuat pengertian-pengertian yang dalam. Dunia adalah: "... rumah, (orang yang) diselamatkan bukanlah (yang keluar) dari rumah, tetapi (yang berada) di dalamnya". Dunia adalah kendaraan mukmin untuk lari dari setan menuju ke Allah SWT Tanpanya, dia tidak akan bisa selamat. Anehnya, orang yang menghindar dari dunia dan masyarakat tidak akan sampai pada tujuan yang dikehendaki Allah SWT, yaitu kedekatan dengan-Nya. Sungguh Allah telah menghendaki manusia agar menggapai tujuan ini ketika mereka berada di dunia dan dengan sarana dunia. Kalau demikian, dunia merupakan perantara dan sarana yang tidak mungkin dilepas untuk merealisasikan tujuan ini. Inilah hakikat pertama dalam nash tersebut. Dunia menjadi perantara manusia menuju Allah ini, jangan sampai dijadikan tujuan.
Apabila dunia dijadikan tujuan, maka manusia tidak akan selamat dari dunia tersebut; " ... dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata)." Apabila manusia mengeluarkan dunia dari posisi yang sebenarnya, maka dunia akan kehilangan kemampuannya untuk menyelamatkan manusia dari jerat setan atau untuk menyampaikannya ke Allah SWT Dan ini merupakan hakikat kedua dalam nash di atas. Kemudian dunia yang diraih oleh manusia demi tujuan duniawi, bukan demi Allah atau untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau untuk menyampaikan kepada keridhaan Allah, maka dunia tersebut akan melalaikannya (melupakan) dari Allah SWT. Sungguh unik dan mengherankan permasalahan dunia ini. Bila ia dijadikan sebagai perantara, maka ia akan memapahnya menuju Allah. Di lain pihak, Allah akan menyimpan dunia tersebut untuknya, mengabadikannya dan menempatkannya di akhirat kelak. Sebaliknya, bila manusia menjadikannya sebagai tujuan, maka ia akan melalaikan manusia terhadap Allah.
Di lain pihak, kematian akan mencabutnya dan Allah akan menghisabnya dengan hisab yang berat (sulit). Penting untuk kita ketahui bahwa masalah kita bukan pada kuantitas, tapi pada kualitas. Karenanya, bisa saja ada manusia yang memperoleh kekayaan duniawi yang melimpah ruah tapi dia gunakan semua itu di jalan Allah SWT dan keridhaan-Nya. Maka perbuatan itu menjadi amal saleh yang akan dihadirkan kelak di akhirat. Di samping itu, ada manusia yang hanya mendapat sedikit hartayang dicarinya semata-mata demi tujuan dunia, maka dunia yang demikian ini akan hilang (lepas) dari genggamannya dan akan diperhitungkan dengan cermat oleh Allah. Hal ini merupakan hakikat ketiga yang ada dalam nash tersebut. Kemudian jika dunia dimiliki demi tujuan dunia itu sendiri, maka dunia itu yang disebut 'Âjilah -dengan 'ain- (sesuatu yang berjangka pendek). la tidak akan melaju sampai akhirat, karena akan segera lenyap dan sirna. Tetapi, jika dunia diraih untuk selainnya (akhirat), maka ia menjadi Âjilah -dengan hamzah- (sesuatu yang berjangka panjang) yang akan memboyongnya menuju Allah.
Dan di saat menjumpai Allah kelak, dia akan mendapatinya hadir di sisi Allah. Dunia model ini akan menjadi kekal dan tidak ada yang bisa melenyapkannya. "Apa yang ada di sisi Allah pasti baik dan kekal...". Dan "Apa yang diambil dari dunia untuk di luar dunia (akhirat), akan rnemberi kenikmatan di dunia dan akan menjadi ternan menuju akhirat." Inilah hakikat keempat yang ada dalam nash Islam yang mulia ini. Dalam doa ziarah Imam Husein as tertera: "Ya Allah! Janganlah Engkau perbanyak duniaku yang pesona keindahannya akan melalaikanku, dan gemerlap perhiasannya akan menggodaku. Jangan pula Engkau sedikitkan duniaku sampai rnengganggu amalku dan menggelisahkan dadaku."[67]
Yang kami sebutkan tadi tentang masalah dunia dan hubungannya dengan manusia, dan apa yang akan diabadikannya untuknya, dan yang akan hilang, dan yang bermanfaat atau membahayakan itu semuanya berhubungan dengan kualitas bukan kuantitas. Namun, kuantitas juga mempunyai peran dalam membentuk sikap terhadap dunia. Karena banyaknya dunia yang dimiliki seorang akan menyibukkannya dan melalaikannya dari Allah. Jarang sekali ada kekayaan duniawi yang tidak menyibukkan dan memalingkan seorang dari Allah, kecuali dengan kesungguhan dan usaha keras. Sebagaimana sebaliknya, yaitu kalau dunia menahan curahan rizkinya pada seseorang, dia akan terhalang untuk berkonsentrasi penuh kepada Allah. Oleh karena itu, Islam mencari jalan tengah antara keduanya. Betapa banyak dunia yang melalaikan manusia dari Allah dan betapa banyak pula dunia membahayakan amal dan menyibukkannya dari mengingat Allah.
2. Dunia yang menjadi kendaraan orang Mukmin Rasulullah SAWW bersabda: "Janganlah kalian mencaci dunia karena ia adalah sebaik-baik kendaraan orang mukmin. Dengannya, seorang dapat sampai kepada kebaikan dan selamat dari kejahatan."[68]
Dunia merupakan kendaraaan yang dinaiki manusia untuk menuju Allah SWT dan untuk menyelamatkannya dari jahannam. Inilah sisi dunia yang terpuji. Sekiranya tidak ada dunia niscaya manusia tidak akan bisa merealisasikan keridhaan Allah dan mencapai-Nya. Dengan dunialah para wali Allah sampai pada magam yang tertinggi di sisi-Nya.
3.             Dunia yang Menjadi Tempat Kejujuran dan l'tibâr
4.             Dunia yang Menjadi Tempat Kesejahteraan
5.             Dunia yang Mejadi Tempat Mencari Kekayaan dan Mencari Bekal
6.             Dunia Sebagai Tempat Ibadah Para Kekasih Allah
7.             Dunia Adalah Tempat Mencari Pahala Para Wali Allah Imam Ali as pernah membentak orang yang menghina dunia dengan ucapannya sebagai berikut: "Wahai penghina dunia yang terperdaya oleh tipuanya dan terkecoh oleh kebatilannya! Kau hanya tertipu olehnya atau menghinanya? Kau yang jahat padanya atau ia yang jahat padamu? Kapan ia pernah merayumu atau mengelabuimu? Apakah di medan tempur bapak-bapakmu yang terpencil atau di pembaringan nenek-moyangmu yang terkucil?” (Rujuk, pada Nahjul Balâghah, 126.)
8.             8.  Dunia lalah Pasar Imam Ali Al-Hadi as berkata: "Dunia ialah pasar. Ada sekelompok yang beruntung dan ada juga yang rugi."[69]
9.             Dunia ialah Penolong di Akhirat. Imam Al-Bâqir as berkata: “Sebaik-baiknya penolong atas akhirat adalah dunia."
10.         Dunia Adalah Simpanan Imam Ali as berkata: "Dunia adalah simpanan. Sedang ilmu adalah petunjuk (dalil)."[70]
11.         Dunia adalah Rumah Orang-orang yang Bertakwa. Imam Al-Baqir as dalam menafsirkan firman Allah SWT "...Sebaik-baik tempat orang-orang yang bertakwa" beliau berkata: itu adalah dunia."[71]
12.         Dunia Menjaga (kelangsungan) Akhirat. Imam Ali as bertutur: "Dengan dunia, akhirat akan terjaga."[72]

Kalau begitu, menurut Islam dunia itu terpuji. Karena ia merupakan tempat mencari pahala bagi para wali Allah; tempat sujud para kekasih Allah; yang akan menyampaikan ke akhirat; dan tempat mencari bekal bagi orang-orang mukmin. Tetapi, kesemuanya ini kalau manusia memandang dengan dunia (ibshâr bi). Karena, kalau dia memandang pada dunia (ibshâr ila), maka dunia akan membutakannya. Sebagaimana yang diutarakan Imam Ali as Imam Ali as berkata: "Wahai orang yang mencaci dunia, apakah engkau yang zalim kepada dunia atau dunia yang zalim kepadamu?" Kemudian ada yang menjawab: "Sayalah yang zalim kepadanya wahai Amirul Mukminin! Beliau berkata: "Lalu mengapa kamu mencacinya? Bukankah ia adalah tempat yang benar bagi orang yang membenarkannya?".[73]
3. Aku Sibukkan Hatinya dengan Urusan Dunia Timbal-balik Tindak Kriminal dan Siksa Ini adalah siksa (balasan) ketiga bagi orang-orang yang berpaling dari Allah dan menuruti ajakan hawa nafsu. Siksa ini dari jenis kriminal yang bersifat takwînî, bukan gadhâ'î (yudikatif). Sedang siksa takwînî selalu paling "adil" dan tidak ada jalan untuk lari darinya. Tindak kriminal yang saya maksud ialah kemasygulan dengan hawa nafsu daripada dengan Allah dan balasannya ialah tersibukannya manusia dengan dunia daripada dengan Allah. Dalam hadis tersebut disebutkan "... dan aku sibukkan hatinya dengan dunia".
Kalau demikian, hubungan antara tindak kriminal dan balasan merupakan hubungan timbal balik yang dialektis. Tindak kriminal "masygul dengan hawa nafsu dan lupa pada Allah", akan memastikan adanya balasan "masygul dengan dunia daripada dengan Allah". Maka secara otomatis, hal itu akan menambah, mengintensifkan dan meningkatkan kriminalitasnya. Sampai dia pantas menerima balasan yang lebih berat daripada balasan sebelumnya, dan demikian seterusnya. Kalau begitu balasan itu sendiri sejenis dengan tindak kriminal yang telah kami sebutkan.
Namun, balasan itu berbeda dengan tindak kriminalnya karena ia meningkatkan dan memperluasnya. Dengan begini, tindak kriminal itu akan terus bergerak dan membesar dalam kurva yang menaik. Pada awalnya, manusia yang melakukan tindak kriminal sepenuhnya mempunyai pilihan (ikhtiar) yang, sebenarnya, mampu memeliharanya dari kehancuran dan keruntuhan. Jika dia terus menerus melakukannya dan tidak mau meninggalkannya, maka Allah akan menyiksanya dengan menancapkan kekejian itu pada dirinya. Yaitu, Allah akan mencabut sebagian rizki-Nya berupa penjagaan, penguasaan pada jiwa dan kemampuan berikhtiar. Setiap kali derajat balasan bertambah, maka dia semakin lekat dengan kekejian itu, semakin lemah penguasaan dirinya, dan semakin hilang penjagaan pada dirinya.
Sampai akhirnya Allah akan mencabut semua penjagaan dan kemampuan menguasai diri yang telah Dia berikan kepadanya. Balasan berupa hilangnya penjagaan dan penguasaan diri ini tidak berarti mereka tidak "berhak menerima balasan". Karena, tahap pertama mereka berbuat tindakannya itu disertai dengan penjagaan penuh dari kekejian dan penguasaan diri serta kemampuan berikhtiar. Hal tersebut bagaikan orangyang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari bangunan yang tinggi dengan ikhtiarnya, maka ketika jatuh, hilanglah penguasaan pada dirinya. Maka manusia semacam ini tidak dianggap kehilangan ikhtiarnya. Muatan Positif dan Negatif pada "Masygul dengan Dunia" Menyibukkan diri dengan dunia mempunyai dua sisi; positif dan negatif. Adapun sisi positifnya adalah kemauan keras manusia yang mengarah pada dunia dan bergantung padanya. Keadaan ini sebenarnya adalah keadaan sakit yang membahayakan karena dunia akan menjerat dan menguasai hati manusia. Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAWW bermunajat: "Ya Allah, berikan kami rasa takut kepada-Mu yang bisa menghalangi antara kami dan kemaksiatan kepada-Mu. Jangan Kau jadikan dunia paling besarnya harapan kami dan puncak pengetahuan kami".[74]
Tidaklah mengapa bila manusia mengurusi dunianya. Namun, jangan sampai ia menjadi puncak harapannya. Jika demikian, maka berarti dia telah memberi kuasa dunia atas hatinya dan menjadikannya sebagai penguasa tunggal dan pembimbing dirinya. Inilah keadaan sakit pada hati. Dalam wasiat Imam Amirul Mukminin as kepada putranya, Al- Hasan Al-Mujtaba as, beliau berkata: "Janganlah duniamu menjadi puncak harapanmu."[75]
Adapun bentuk negatif bagi kesibukan (manusia) pada dunia ialah terputusnya hubungan dengan Allah. Karena secara alami menyibukkan diri pada dunia berarti terputusnya hubungan dengan Allah. Dengan kata lain, jika dunia menjadi puncak harapan seorang, maka ia juga akan menjadi tujuan utamanya, bukan mencari keridhaan Allah SWT Ketika itu hati manusia tertutup untuk Allah. Sejauh mana kecenderungan hati seorang pada dunia menjadi barometer ketertutupan hatinya untuk mencari ridha Allah. Dan jika dia sudah menjadikan dunia sebagai satu-satunya harapan, maka hatinya akan betul-betul tertutup untuk-Nya. Keadaan ini merupakan ekses dari keadaan sebelumnya yang jauh lebih berbahaya pada diri manusia. Alquran telah menyingkap penyakit ini di beberapa tempat dan dengan tanda-tanda yang berbeda-beda yang sebagiannya akan kami paparkan di sini.
Alquran juga menyebutkan berbagai sebab dan perkembangannya. Tanda-tanda Tertutupnya Hati Terhadap Allah
1.                Ar-Rayn (Karat) Ar-Rayn adalah karat yang menutupi hati. Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka ..." Q.S. Al-Muthaffifîn:14. Dalam Al-Mufradât-nya, Ar-Râghib mengatakan tentang tafsir ayat sebagai berikut: "Hal tersebut menjadi bagaikan karat yang menutupi kejernihan hati mereka. Sehingga kabur bagi mereka perbedaan antara kebaikan dan kejelekan".
2.                Ash-Sharf (Memalingkan) Hal ini adalah sebagai siksaan di mana Allah memalingkan hati yang lalai dari mengingat Allah. Allah SWT berfirman: "Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti ..." Q.S. At-Taubah:127.
3.                Ath-Thab' (Watak/Terkunci) Allah SWT berfirman: "....dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar ..." Q.S. Al-A'râf:100. Maksudnya ialah bahwa Allah membentuk (watak) hati bukan dari shibghah (bentukan) Allah; bentukan hawa nafsu dan dunia.
4.                Al-Khatm (Tertutup) Allah SWT berfirman: "Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutupi..." Q.S. Al-Baqarah:7. Al-Khatm (tertutup) lebih dahsyat daripada Ath-Thab' (terkunci).
5.                Al-Aqfâl (Terkunci) Allah berfirman: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alguran ataukah hati mereka terkunci? ..." Q.S. Muhammad:24.
6.                Al-Taghlîf (Penyelimutan) Allah SWT berfirman: "Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka". Q.S. Al-Baqarah:88. Dan firman Allah: "..perkataan mereka: " Hati kami tertutup", bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya". Q.S. An-Nisâ':155.
7.                At-Taknîn (Penyumbatan) Allah SWT berfirman: "Mereka berkata: "Hati kami bera-da dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan ditelinga kami ada sumbatan". Q.S. Fushshilat:5. Dan firman Allah: "...padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya". Q.S. Al-An'âm 25.
8.                At-Tasydîd (Pengerasan) Allah SWT berflrman: "Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka, dan kunci mati hati mereka..." Q.S. Yunus:88.
9.                Al-Qaswah (Menjadi batu) Allah berfirman: "Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya". Q.S. Az- Zumar:22. Dan firman Allah: "Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras..." Q.S. Al-Hadîd:16. Inilah gambaran-gambaran tentang tertutupnya hati serta berbagai keadaannya dan perkembangannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alquran yang mulia di atas. Bagaimana Dunia Bisa Berubah Menjadi Penjara? Apabila hati manusia telah tertutup untuk Allah, maka dunia akan menjadi penjara manusia dan akan menguasainya sampai dia tak akan bisa keluar darinya.

Karena penjara, pada dasarnya, berarti mengurung dan mengikat ruang gerak seorang agar tidak bisa keluar (lepas). Begitu pula dunia akan memenjarakan, mengikat ruang gerak dan mencegah bepergian atau kebebasan manusia. la juga akan mempengaruhi semua kehendak dan ambisi manusia dan akan memutuskan hubungannya dengan Allah SWT Pengertian ini telah terdapat dalam nash-nash keislaman termasuk dalam doa Imam Abu Ja'far Al-Bâqir as sebagai berikut: "Jangan Engkau jadikan dunia sebagai penjara bagiku”.[76]
Dan dalam do'a Imam Ja'far Ashl-Shâdiq as dikatakan: "Jangan Engkau jadikan dunia sebagai penjara dan perpisahan dengannya sebagai kesedihan bagiku."[77]
Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa seorang yang dipenjara ketika keluar darinya merasa sedih dan susah. Penjara ini berbeda dengan penjara-penjara lainya. Manusia sangat senangdan suka padanya. la mengurungjiwa dan membuatnya terpatri padanya sehingga tidak bisa berpisah dengannya. Jika dipaksa keluar darinya, dia akan kalut dan sedih. Ketika manusia mulai mematrikan dunia pada dirinya, maka ia akan menjaringnya sebagaimana ubur- ubur (uhthubuth atau octopus) menjaring. Kemudian dunia akan membelenggu kaki dan tangannya, membatasi ruang geraknya dan menundukkannya. Imam Amirul Mukmin Ali as berkata: "Dunia bagaikan jaring (perangkap) yang akan menjerat orang yang menyenanginya (yang mencintainya)."[78]
Sekali lagi marilah kita menengok pada keterkaitan antara "penjara" dan "orang yang terpenjara" dalam nash-nash keislaman yaitu pada "... ia akan menjerat orangyang mencintainya." Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang mencintai dinar dan dirham, maka dia adalah budak dunia."[79]
"Penghuni" atau Ahli Dunia Sesungguhnya dunia mempunyai penghuni (ahl). Begitu juga akhirat. Penghuni atau penggemar dunia adalah orang-orang yang ingin langgeng dan condong kepada dunia sampai-sampai dia berat untuk meninggalkannya. Sama sebagaimana manusia yang berat berpisah dengan keluarganya. Ahli akhirat adalah orang-orang hidup di dunia sebagaimana selainnya hidup; menikmati kesenangan dan kelezatan dunia sebagaimana orang lain, tapi mereka tidak pernah ingin kekal di dunia atau condongpadanya. Mereka ini disebut Ahlullah (orang Tuhan). Ahli akhirat mempunyai ciri-ciri sebagaimana ahli dunia juga memiliki ciri-ciri. Kami menemukan ciri-ciri ahli dunia dalam hadis Mi'raj. Rasulullah SAWW bersabda: "Ahli dunia adalah orang yang banyak makan, tertawa, tidur dan marah, tapi sedikit keridhaannya (kerelaan), tidak memafkan orang yang berbuat jelek (salah) padanya, dan tidak menerima alasan (ampunan) orang yang minta ampun. Dia malas berbuat ketaatan dan berani melakukan kemaksiatan. Keselamatannyajauh dan ajalnya dekat, tapi tidak pernah mawas diri.
Sedikit manfaatnya, banyak bicaranya dan kurang rasa takutnya (kepada Allah). "Para penggemar dunia tidak bersyukur saat ada rizki dan tidak sabar saat ada petaka. Mereka memuji diri sendiri dengan apa-apa yang mereka tidak kerjakan dan menuntut yang bukan hak mereka. Berbicara dengan khayalan, menyebut-nyebut kejelekan orang dan menyembunyikan kebaikan mereka".[80]
Penggemar atau ahli dunia merasa tentram dengan dunia dan mendapatkan kesenangan dan ketenangan di dalamnya. Jiwa mereka hendak bersemayam padanya, padahal dunia bukanlah tempat yang abadi. Jika manusia sudah merasa senang terhadap dunia, maka dia benar-benar berada dalam pengkaburan dunia. Dia menganggap dunia sebagai tempat abadi padahal ia bukan begitu.
Amirul Mukminin Ali as berseru: "... Ketahuilah bahwa kamu diciptakan untuk akhirat bukan untuk dunia, untuk fana bukan untuk kekal (di dunia), untuk mati bukan untuk hidup. Dan karnu berada di tempat yang oleng tidak kukuh, tempat sementara tidak langgeng dan tempat untuk berbekal serta jalan menuju akhirat..." "Berhati-hatilah! Jangan tertipu dengan apa yang kamu lihat dari kebaikan ahli dunia dan ketamakan mereka padanya. Sungguh Allah SWT telah memberitahumu tentangnya, mencirikan jati dirinya, dan menyingkapkan kejelekan-kejelekannya kepadamu...”[81]
Pengkaburan Dunia Termasuk pengkaburan dunia ialah anggapan bahwa dunia itu tempat abadi yang akan dihuni dan ditempati manusia untuk selama-lamanya. Padahal dunia adalah tempat berlalu bukan tempat yang langgeng. Manusia yang ada di dunia itu seperti orang asing. Dia bertempat di situ hanya beberapa hari saja lalu berpindah ke akhirat. Walaupun demikian, manusia selalu ingin abadi dan menetap untuk selama- lamanya di dalamnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan kamu orang yang asing atau perantau."[82]
Imam Ali as berkata: "Wahai manusia! Sungguh dunia merupakan tempat untuk berlalu, sedangkan akhirat tempat untuk menetap. Maka ambillah dari tempat berlalumu untuk tempat menetapmu."[83]
Masalah ini bersifat mental. Artinya, manusia yang melintasi jalan, tidak akan mampu bertempat di dalamnya. Sebaliknya, orang yang menempati suatu rumah akan akrab dengannya. Isa Al-Masih as, putra Maryam mempunyai untaian kata yang menarik dalam pengertian ini. Telah diriwayatkan dari beliau as yang demikian bunyinya: "Siapakah yang bisa membangun rumah di atas ombak laut?. Begitulah dunia. Maka janganlah kalian jadikan dunia sebagai tempat tinggal." Dunia bukan tempat tinggal yang langgeng (tetap) sebagaimana ombak tidak ada yang tetap, maka mana mungkin jiwa akan tentram padanya? Mungkinkah manusia membuat rumah untuk dirinya di atas ombak laut?
 Diriwayatkan bahwa Jibril as berkata pada Nuh as begini: "Wahai Nabi yang umurnya paling panjang, bagaimana Anda mendapatkan dunia ini?
Nuh as menjawab: "Bagaikan rumah yang mempunyai dua pintu. Aku masuk yang satu dan aku keluar dari pintu yang lainnya."[84]
Inilah perasaan suci yang dirasakannya oleh sesepuh para Nabi pada detik-detik akhir hidupnya. Inilah perasaan (pengakuan) yang jujur yang jauh dari pengkaburan dunia. Bila (manusia) menyayangi dunia dan merasa tentram padanya, maka perasaan suci itu tadi akan berubah menjadi kecintaan dan kegandrungan pada dunia yang berakibat pada terjerumusnya dia ke dalam perangkapnya, lalu ke dalam pengkaburannya. Keadaan inilah yang dialami ahli (penggemar) dunia; orang- orang yang membayangkan bahwa di dunia ada tempat tinggal yang tenang dan langgeng bagi manusia.



[1] Nahjul Balâghah, Hikmah ke-100.
[2] Buhârul Anwâr, 96:249 dan 254-255.
 [3] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-57.
[4] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-27.
[5] Bihârul Anwâr, 73:64.
[6] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:201.
[7] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:199.
[8] Bihârul Anwâr, 78:302.
[9] Bihârul Anwâr, 70:320.
[10] Nahjul Balâghah, 191.
[11] Nahjul Balâghah, 194.
[12] Bihârul Anwâr, 78:70.
 [13] Bihârul Anwâr, 70:73.
[14] Nahjul Balâghah, Hikmah 228.
[15] Bihârul Anwâr, 1:121.
[16] Nahjul Balâghah, Surat ke-66.
[17] Bihârul Anwâr, 73:49.
[18] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:29.
[19] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:30.
[20] Bihârul Anwâr, 70:315.
 [21] Al-Ghurar wa Ad-Durar, karya Al-Amudi.
[22] Bihârul Anwâr, 77:263.
[23] Bihârul Anwâr, 77:166.
[24] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:93.
[25] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-80.
[26] Bihârul Anwâr, 70:320.
[27] Nahjul Balâghah, 112.
[28] Bihârul Anwâr, 73:119.
[29] Nahjul Balâghah, 31.
[30] Bihârul Anwâr, 73:123.
 [31] Bihârul Anwâr, 79:18.
[32] Bihârul Anwâr, 79:122.
[33] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:102.
[34] Bihârul Anwâr, 73:126.
[35] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-63.
[36] Bihârul Anwâr, 14:319.
[37] Nahjul Balâghah, 194.
[38] Syarah Nahjul Balâghah, Khutbah ke-63.
[39] Bihârul Anwâr, 72:122.
[40] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî.
 [41] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî.
[42] Bihârul Anwâr, 70:319.
[43] Bihârul Anwâr, 70:319.
[44] Bihârul Anwâr, 77:8; Makârimul Akhlâq, 81.
[45] Ad-Durrul Mantsûr, 1: 67.
[46] Bihârul Anwâr, 77:80.
[47] Bihârul Anwâr, 70:317.
[48] Bihârul Anwâr, 78:164.
[49] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26.
[50] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:45.
[51] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26.
[52] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:28.
[53] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:73.
[54] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:85.
55] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26.
[56] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:37.
[57] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:11.
[58] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:11.
[59] Bihârul Anwâr, 78:21.
 [60] Bihârul Anwâr, 73:96.
[61] Bihârul Anwâr, 73:108.
 [62] Bihârul Anwâr, 73:20.
 [63] Bihârul Anwâr, 73:81.
 [64] Nahjul Balâghah, Hikmah ke-455.
[65] Ushûlul Kâfî, 2:138.
 [66] Nahjul Balâghah, 62.
[67] Bihârul Anwâr, 101:208.
 [68] Bihârul Anwâr, 77:178.
[69] Bihârul Anwâr, 78:366.
[70] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî.
[71] Bihârul Anwâr, 73:107.
[72] Bihârul Anwâr, 67:67.
[73] Bihârul Anwâr, 78:17.
[74] Bihârul Anwâr, 95:361.
[75] Bihârul Anwâr, 42:202.
[76] Bihârul Anwâr, 97:379.
 [77] Bihârul Anwâr, 97:338.
[78] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî.
[79] Bihârul Anwâr, 103:225.
[80] Bihârul Anwâr, 77:24.
[81] Nahjul Balâghah, 31. [82] Bihârul Anwâr, 73:99.
[83] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-203.
[84] Mîzânul Hikmah, 3:339. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar